Sunday, 16 October 2016

"Rumah Guru"

Sebuah Refleksi Menuju Implementasi Pendidikan Keuangan dalam Tri Pusat Pendidikan Indonesia

Rumah guru berasal dari dua kata, yaitu rumah dan guru. Dalam kamus besar bahasa Indonesia rumah dapat diartikan sebagai bangunan untuk tempat tinggal;  bangunan pada umumnya (seperti gedung). (http://kbbi.web.id/rumah, 2016). Kata guru dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar (http://kbbi.web.id/guru, 2016). Dalam bahasa Inggris guru disebut teacher : A person who teaches, especially in a school. Dalam Bahasa Arab, ada empat kata yang semuanya bisa bermakna "rumah", yaitu: bayt (بَيْت), daar (دَار), maskan (مَسْكَن), dan manzil (مَنْزِل). Berdasarkan segi asal katanya, setiap kata tersebut memiliki makna dan nuansa tersendiri
  1. bayt (بَيْت) berasal dari fi'il (kata kerja) baata/yabiitu (بَاتَ/يَبِيْتُ) yang artinya: bermalam, 
  2. daar (دَار) berasal dari fi'il daara/yaduuru (دَارَ/يَدُوْرُ) yang artinya: berkeliling, beredar, 
  3. maskan (مَسْكَن) berasal dari fi'il sakana/yaskunu (سَكَنَ/يَسْكُنُ) yang artinya: tetap, tenang, 
  4. manzil (مَنْزِل) berasal dari fi'il nazala/yanzilu (نَزَلَ/يَنْزُلُ) yang artinya: turun, singgah. 
Dapat dikatakan dari keempat tersebut mewakili empat fungsi rumah, yaitu:
      1. Bayt, memiliki makna rumah sebagai tempat bermalam
      2. Daar, rumah sebagai tempat berkeliling atau beraktifitas
      3. Maskan, rumah sebagai tempat tinggal atau tempat menetap dengan tenang
      4. Manzil, rumah sebagai tempat mampir atau persinggahan
Dari beberapa arti kata rumah dan guru di atas dapat disimpulkan tentang definisi rumah guru. Rumah guru adalah bangunan seperti gedung yang berfungsi sebagai tempat bermalam, beraktifitas, menerima tamu,dan tempat tinggal untuk orang yang memiliki profesi mengajar di sekolah.


Mengapa rumah guru saya coba angkat ke dalam artikel? Berangkat dari sebuah tulisan tentang fakta banyak kaum muda di negara Australia yang tidak mampu membeli rumah. Saya coba refleksikan apa yang juga dialami dalam dunia pendidikan, dalam hal ini terkait kehidupan personal guru dari sisi rumah sebagai kebutuhan dasar mereka. Fakta menunjukkan bahwa banyak guru utamanya guru muda masih belum mampu memiliki rumah sendiri. Sebagian guru mengontrak rumah, kos, di rumah orang tua, di rumah mertua atau di rumah dinas. Menarik untuk rumah dinas sekolah yang saya kira rata-rata kondisinya kurang terfasilitasi oleh anggaran pemerintah dalam perawatannya. Bahkan fakta menunjukkan rumah dinas di beberapa sekolah banyak yang mangkrak dan nyaris ambruk kalau tidak lebih untung dijadikan gudang. Rumah dinas guru adalah adalah rumah negara golongan II yang  mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu sekolah  dan hanya disediakan untuk didiami oleh guru dan apabila telah berhenti, pensiun atau pindah tugas rumah dikembalikan kepada Negara/Daerah.


Fakta bahwa guru muda belum mampu memiliki rumah tentu sangat menarik untuk dicermati bersama. Apakah memang karena gajinya masih kecil? Apakah karena gaya hidup? Apakah karena harga rumah dan tanah yang terlanjur melambung tinggi sehingga tak terbeli? Apakah karena ekonomi negara yang belum gemah ripah lohjinawi sebagaimana jargon-jargon selama ini? Apakah karena belum optimalnya pendidikan keluarga dalam tri pusat pendidikan? atau mungkin sebab lain.

Menilik dari analisis fenomena di negara Australia dimana fakta ini menjadi masalah tersendiri bagi kaum muda mereka. Kaum muda Australia dalam hal ini disebut gen Y. Gen Y adalah istilah yang diberikan kepada kaum muda yang lahir di tahun 1980-an hingga 1990-an.. Mereka mengamati dari sisi fenomena gaya hidup anak muda, perlunya pendidikan keuangan maupun keadaan ekonomi negara. Tentunya semacam ini tidaklah dapat serta merta digenalisir karena memang ada semacam kasuistik fakta, masalah, dan solusi yang perlu kita cermati bersama-sama.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Impact Leader menemukan satu dari 3 anak-anak muda di Australia yang berusia antara 18 hingga 34 tahun tidak memiliki tabungan dan banyak yang terlilit utang. Riset ini juga menemukan fakta bahwa, membeli rumah merupakan tujuan semua anak muda di Australia, namun hanya 70% yang berhasil membeli rumah impian mereka. Dari riset ini juga terungkap banyak kalangan generasi muda di Australia yang terlilit utang untuk membiayai gaya hidup mereka seperti membeli Iphone, daripada fokus pada masa depan ekonomi mereka.

Dalam paparan metrotvnews.com/abc/read/2016 diungkapkan fakta bahwa, peluang untuk generasi muda di Australia memiliki rumah menjadi sulit. Laporan tersebut pernah diungkapkan pada tahun 2001, dimana 68,8 persen rumah tangga memiliki rumah sendiri. Tapi pada tahun 2014, angkanya menjadi 64,9 persen. Tahun 2002, 57 persen dari orang dewasa memiliki rumah, kemudian angka ini jatuh hingga 51,7 persen, di tahun 2014. Kepemilikan rumah antara mereka yang berusia 25 hingga 34 tahun, atau Gen Y, menurun dari 38,7 persen di 2002 menjadi 29,2 persen pada tahun 2014. Sebagian besar penurunan terjadi antara tahun 2010 dan 2014. Beberapa alasan atau masalahnya adalah harga properti lebih mahal dari harga tahun-tahun sebelumnya, nilai rumah lebih rendah daripada nilai kenaikan hutang, nilai pendapatan rumah tangga menurun sedangkan biaya pengeluaran meningkat 110 persen, beberapa kebiasaan yang secara tidak langsung berpengaruh seperti lama waktu tidur, pola makan yang lebih mewah oleh generasi Gen Y dibanding generasi sebelumnya yang sudah mapan secara finansial.

Nah, bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Rata-rata guru usia muda antara 25-33 adalah berada dalam pangkat IIb-IIIb dengan kisaran gaji pada tahun 2015 menurut Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2015 adalah Rp 2.103.300 - 2.560.600 perbulan untuk masa kerja 0 bulan jika PNS. Biaya hidup di Indonesia berbeda untuk daerah satu dengan daerah lain. Saya ambil sampel di Yogyakarta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dapat diketahui bahwa rata-rata kebutuhan hidup minimum/layak (KHm/Khl) selama sebulan terus mengalami tren naik, sebagai contoh untuk D.I.Y pada tahun 2005 adalah Rp 399.964; sedangkan pada tahun 2015 sudah mencapai Rp 924.284. Jika dilihat sekala nasional KHm/Khl  pada tahun 2005 adalah Rp 530.082 sedangkan pada tahun 2015 sudah mencapai Rp 1.813.396. Mengacu pada upah minimum kabupaten/kota (UMK) pada tahun 2015 adalah Kota Yogyakarta Rp. 1.452.400, Kabupaten Sleman Rp. 1.338.000, Kabupaten Bantul Rp. 1.297.700, Kabupaten Kulon Progo Rp. 1.268.870, dan Kabupaten Gunung Kidul Rp. 1.235.700.

Sebagai gambaran fakta harga rumah tipe 36-45 pada tahun 2015 di Yogyakarta berkisar Rp 265 juta-Rp 290 juta. Harga tersebut  mengalami tren naik dari tahun ke tahun. Harga properti residensial di DIY tahun 2016 terus naik, dikarenakan kenaikan harga bangunan, upah pekerjaan, dan biyaa perizinan (KR, 3/11/2016). Nah berapa lama butuh menabung bagi guru muda PNS? Secara matematika memang dapat kita hitung secara sederhana. Jika kita asumsikan rata-rata perbulan seorang guru muda dapat menabung Rp 1 juta/bulan, maka dapat kita hitung seorang guru muda harus menabung selama 265 bulan atau kurang lebih 22 tahun. Bisa dibayangkan sekitar umur 55 tahun baru bisa beli rumah. Keburu akan pensiun kan? Bagaimana pula dengan guru tidak tetap/GTT? Saya kira masalah ini menjadi masalah untuk sebagian besar penduduk di Indonesia. Tentu tidak untuk sebagaian orang yang beruntung karena keadaan ekonomi orang tua lebih mapan, dia punya harapan untuk mendapat hibah atau waris. Tidak menjadi soal untuk orang yang profesinya dokter, dosen, pengusaha, atau pejabat, dan kiyai.Aka ntetapi tentu sangatlah bijak sana jika masalah ini mejadi pemikiran bersama untuk mendapatkan penyelesaian/solusi dari sisi dunia pendidikan.

Artikel ini penting untuk ditulis dan dicermati oleh pembaca meski butuh penelitian dan kajian lebih mendalam. Hal itu karena sudah sangat pentingnya dan urgent-nya review model pendidikan keuangan yang sudah ada untuk menyempurnakan model pendidikan keuangan yang tidak hanya pada tataran konseptual tapi model pendidikan yang dapat  diimplementasikan dalam tri pusat pendidikan secara lebih terkonsep, rigid, intens, lebih sistematis, terarah, dan terukur, serta teruji di lapangan. Tentunya dengan tujuan yang lebih luas, yaitu demi menyiapkan peserta didik yang handal dan mandiri dalam ketahanan ekonominya kelak.

Pengembangan Model Pendidikan Keuangan 
1. Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama. Dalam keluarga lah pendidikan keuangan dibentuk untuk pertama kalinya. Dalam keluarga pula pendidikan keuangan akan dibiasakan dan diterapkan. Bapak dan Ibu memiliki peran utama dalam membentuk watak keuangan anaknya. Bapak dan Ibu yang gemar menabung insyaallah anaknya akan gemar menabung pula. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu dibiasakan dalam pendidikan keuangan di lingkungan keluarga, antara lain:
a. mendahulukan pemenuhan kebutuhan primer
Sebagai ilustrasi sekarang banyak orang tua muda yang lebih cepat ingin punya mobil dibanding punya rumah.
b. membelanjakan keuangan sesuai anggarannya dengan prioritas urgensi yang sesuai
Anak dapat diberi kepercayaan untuk memiliki uang saku sekadar untuk membeli makan, minum, dan transportasi sekolah. Uang saku itu harus digunakan secara baik tidak boleh untuk membeli mainan. Jika kita amati sering dijumpai anak SD pada saat istirahat membeli mainan dengan uang sakunya. Hal itu sebaiknya tidak dilakukan karena uang saku yang seharusnya dibelikan makan dan minuman tetapi dibelikan mainan saat istirahat akan berpengaruh pada kesiapan fisik menerima pembelajaran. Kecenderungannya anak tersebut akan merasa capek dan kurang fokus dalam pembelajaran karena teringat dengan mainannnya.
c. mengganggarkan keuangan khusus untuk menabung
Mengajak anak rutin setiap bulan ke bank untuk menabung tentu menjadi kebiasaan dan pembiasaan yang baik. Untuk menabung tidak harus nominal banyak, yang penting rutin. Hal itu dapat dimulai dengan membiasakan menabung sisa uang saku atau memang jatah menabung dari orang tua ke dalam celengan. Meski hanya lima ratus rupiah seribu rupiah atau lebih. Setelah terkumpul satu bulan, anak diajak ke bank untuk menabung uang tersebut.
d. mengganggarkan keuangan khusus untuk bersedekah dan zakat
e. mengganggarkan keuangan khusus untuk pendidikan
f. mengganggarkan keuangan khusus untuk hiburan atau liburan
g. mengganggarkan keuangan khusus untuk pajak sebagai salah satu bentuk ketaatan sebagai warga negara

Kebiasaan baik di atas dapat dibiasakan kepada anak secara lebih dini namun secara alamiah, sehingga anak merasa nyaman.
2. Lingkungan Sekolah

Berbicara tentang model pendidikan keuangan di sekolah secara jamak memori kita akan otomatis terarah pada pendidikan IPS ekonomi pada jenjang SMP, SMA, atauk SMEA/SMK. Kita juga akan menghubungkan ingatan kita dengan program D3 ekonomi, S1 ekonomi, Magister ekonomi, dan pendidikan doktor ekonomi. Sedangkan dalam jenjang SD ada internalisasi dalam mata pelajaran matematika terkait operasi hitung yang melibatkan keuangan dan mata pelajaran IPS terkait konsep seperti koperasi di kelas IV, kegiatan ekonomi di kelas V.

Kiranya untuk lebih fokus, kajian ini akan membatasi pada model pendidikan keuangan di sekolah dasar. Dalam standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) di sekolah dasar, dapat ditemukan SK dan KD yang berhubungan dengan ekonomi, yaitu sebagai berikut.

SK mata pelajaran IPS kelas IV semester II
4. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologidi lingkungan kabupaten/kota dan provinsi 
KD mata pelajaran IPS kelas IV semester II
4.1 Mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya
4.2 Mengenal  pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
4.3 Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi,  dan transportasi serta pengalaman menggunakannya
4.4 Mengenal permasalahan sosial di daerahnya
SK mata pelajaran IPS Kelas V semester I
Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskalanasional  pada masa Hindu-Budha dan
Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia  
KD mata pelajaran IPS kelas V semester I
5.1 Mengenal makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia
5.2 Menceriterakan tokoh-tokoh sejarah pada masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia
5.3 Mengenal  keragaman kenampakan alam dan buatan serta pembagian wilayah waktu di Indonesia dengan menggunakan peta/atlas/globe dan media lainnya
5.4 Menghargai keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia
5.5 Mengenal jenis-jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia
SK mata pelajaran IPS Kelas VI semester II
Memahami  peranan bangsa Indonesia di era global 
KD mata pelajaran IPS kelas VI semester II
2.2 Mengenal manfaat ekspor dan impor di Indonesia sebagaikegiatan ekonomi antar bangsa

3. Lingkungan Masyarakat

Sumber:
http://belajarbahasaarab.blogspot.co.id/2012/02/rumah-dalam-bahasa-arab.html
http://kbbi.web.id/guru
http://kbbi.web.id/rumah
https://en.oxforddictionaries.com/definition/teacher
http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013
http://m.metrotvnews.com/abc/read/2016/07/21/7648428
http://kemdikbud.go.id
http://properti.kompas.com/read/2016/04/03/160521921/Catat.Harga.Properti.Tak.Pernah.Turun.
http://www.gajiumr.com/gaji-umr-jojga-yogyakarta/
http://www.andreanperdana.com/2016/09/lingkungan-tri-pusat-pendidikan.html

https://kerjanyata.id/infografik/
https://www.bps.go.id
http://www.gajimu.com/main/gaji/gaji-pejabat-negara-ri/gaji-pns
https://www.rumah123.com/
Kedaulatan Rakyat edisi 3 November 2016
https://mansurmok.files.wordpress.com/2010/08/standar-isi-sd-mi-sdlb.pdf

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...