Wednesday, 7 December 2016

LAPORAN WAJIB KUNJUNG MUSEUM (WKM) 2016



LEMBAR PENGESAHAN

  Laporan pertanggungjawaban Wajib Kunjung Museum (WKM) telah disahkan di sleman pada tanggal ................................ oleh:



Kepala SD ...............................


.................................................
NIP ..........................................







KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Kunjungan Museum (WKM) tahun 2016. Laporan ini disusun untuk memenuhi kewajiban kami kepada Dinas Kebudayaan DIY sebagai bukti telah mengadakan kegiatan WKM.
            Kegiatan WKM SD ........................, ............. terselenggara dengan bantuan dan dukungan banyak pihak. Dengan demikian kami ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Kepala Dinas Kebudayaan DIY yang telah memberikan  kesempatan kepada kami mengikuti dan melaksanakan WKM tahun 2016;
2.      Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sleman yang telah memberikan ijin pembelajaran di luar kelas.
3.      Pemandu Wisata Dinas Kebudayaan DIY yang telah memberikan informasi dan wawasan kepada peserta WKM selama berada kunjungan.
4.      Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.

Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari masih ada kekurangan. Oleh karena itu kepada para pembaca, kami mohon  saran dan  kritik yang membangun demi kesempurnaan laporan ini. Kami berharap semoga laporan ini berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan wawasan pembaca.




PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu modal penting pada masa sekarang. Melalui proses pendidikan dan pembelajaran diharapkan dapat membawa peserta didik untuk mewujudkan cita-cita dan impiannya di masa depan. Proses belajar bagi siswa tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja, tetapi dapat juga dilakukan melalui proses pembelajaran di luar kelas. Dalam mewujudkan proses pembelajaran di luar kelas, kami mendorong siswa untuk lebih memahami sejarah dan meningkatkan kecintaan akan membaca. Proses pembelajaran  dilakukan melalui kunjungan ke Museum Sejarah Purbakala Pleret dan perpustakaan Grahatama Pustaka. Kegiatan kunjungan terlaksana atas kerjasama Dinas Kebudayaan, yaitu melalui program Wajib Kunjung Museum (WKM) tahun 2016. Dalam kegiatan kunjungan ini, peserta didik diharapkan dapat meningkatkan motivasinya untuk menggali dan meng-up grade potensi, pengetahuan, dan wawasan sejarah guna mengoptimalkan prestasi belajar di SD .............................

B.     Tujuan
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, tujuan dilaksanakannya kegiatan Wajib Kunjung Museum SD ............................. adalah sebagai berikut.
1.      Mengenal lebih dekat tentang Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Perpustakaan Grahatam Pustaka.
2.      Meningkatkan motivasi dan kecintaan akan membaca.
3.      Meningkatkan pemahaman akan sejarah.
4.      Meningkatkan motivasi peserta didik untuk menggali dan meng-up grade potensi, pengetahuan, dan wawasan sejarah guna mengoptimalkan prestasi belajar di sekolah..

C.     Manfaat
Adapun manfaat yang didapatkan peserta didik SD ............................ dalam pelaksanaan kegiatan Wajib Kunjung Museum adalah sebagai berikut.
1.      Kenal lebih dekat tentang Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Perpustakaan Grahatam Pustaka.
2.      Meningkat motivasi dan kecintaan membaca
3.      Bertambah pemahaman akan sejarah
4.      Meningkatkan motivasi berprestasi


PELAKSANAAN WKM

A.    Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari          : Selasa
Tanggal     : 29 November 2016
Waktu      : 08.30-14.30
Tempat     : Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Perpustakaan Grahatama
 Pustaka
B.     Peserta
Kegiatan Wajib Kunjung Museum (WKM) diikuti oleh sejumlah ........ peserta terdiri atas ............. pendamping, ............ siswa kelas ..........., dan ......... siswa kelas ..............
C.    Jadwal Kegiatan
Kegiatan Wajib Kunjug Museum (WKM) dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut.
No.
Kegiatan
Hari, tanggal
Waktu
Keterangan
1
Rapat Kordinasi WKM di Dinas Kebudayaan DIY
Selasa, 25 Oktober 2016
10.00-selesai
Ditentukan:
1. Tujuan: Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Grahatama Pustaka
2. Pelaksanaan: Selasa, 29 November 2016
2
Rapat Kordinasi WKM di sekolah
Rabu, 26 Oktober 2016
10.00-selesai
1. Penyampaian hasil rapat kordinasi WKM di Dinas Kebudayaan DIY
2. Pembentukan Panitia
3. Pembahasan persiapan yang dibutuhkan
3
Pengajuan Ijin WKM ke Dinas DIKPORA Kab. Sleman
Jumat, 28 Oktober 2016
13.00
Ijin diterbitkan oleh Dinas DIKPORA Kab. Sleman tertanggal ......................dengan No. ..........................
4
Persiapan, pembekalan, dan doa
Selasa, 29 November 2016
07.00-08.30
Pembekalan dan doa oleh ....................
5
Berangkat
08.30
Peserta WKM berangkat dengan menggunakan tiga bus Dinas Kebudayaan DIY
6
Kunjungan ke Museum Sejarah Purbakala Pleret
19.30-11.00
Kunjungan dipandu oleh Pemandu Dinas Kebudayaan DIY dan Museum Sejarah Purbakala Pleret
7
ISOMA
11.30-12.20

8
Kunjungan ke Perpustakaan Grahatama Pustaka
12.20-14.30
Kunjungan dipandu oleh Pemandu Dinas Kebudayaan DIY dan Grahatama Pustaka
9
Pulang
14.30
Sampai di sekolah pukul 15.00 WIB
10
Rapat evaluasi WKM di sekolah
Rabu, 30 November 2016
10.00-selesai
1. Evaluasi pelaksanaan WKM
2. Pembubaran panitia Panitia
3. Penyusunan laporan pertanggungjawaban WKM untuk dilaporkan ke Dinas Kebudayaan DIY




MUSEUM YANG DIKUNJUNGI

A.     Museum Sejarah Purbakala Pleret
Sesuai jadwal kami berkunjung ke museum sejarah Purbakala Pleret pada pukul 09.30-11.00 WIB. Rombongan WKM SD ............................ tiba pukul 09.40. Rombongan berkumpul di gazebo untuk berdoa bersama dengan di Pandu oleh Bapak Santo. Seusai berdoa dan ucapan selamat datang, bapak santo menjelaskan tentang profil museum. Peserta WKM juga diberi kuis berbahasa Jawa oleh pemandu. Siswa diajak menyaksikan profil museum, dan film tentang sejarah kerajaan mataram Islam. Seusai menyaksikan film, para siswa melakukan observasi koleksi museum.  
Menurut keterangan yang kami dapatkan, museum Sejarah Purbakala Pleret didirikan pada tahun 2004. Museum ini seluas sekitar  2.500 m2. Museum dikelola olah Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.
Museum Sejarah Purbakala Pleret berada di Dusun Kedaton, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Museum ini menyimpan benda-benda yang terkait dengan berbagai peristiwa sejarah yang pernah ada di Pleret. Kecamatan Pleret merupakan salah satu daerah di Kabupaten Bantul yang mempunyai peran historis tinggi karena pernah menjadi tempat berdirinya Keraton Kerto dan Keraton Pleret. Keberadaan tempat-tempat tersebut kini sudah tidak dapat dilihat lagi, namun sebagian sisa bangunan masih terpendam di dalam tanah. Beberapa komponen bangunan yang telah rusak tersebut, saat ini akhirnya tersebar di beberapa wilayah di sekitar bangunan tempat museum berdiri.
Keberadaan Sumur Gumuling menjadi simbol adanya suatu peradaban yang pernah berkembang di tempat itu karena adanya sumur tersebut menandakan lokasi bekas berdirinya Keraton Pleret. Sumur tersebut berada di dalam area bangunan museum. Dulunya sumur ini sudah tidak terawat dan terbengkalai, namun sekarang sumur ini sudah dipugar dan masih berfungsi dengan baik.  Berbagai penemuan yang berkaitan dengan keberadaan Keraton Pleret adalah ditemukannya berbagai macam batuan dan sisa-sisa bangunan keraton di sekitar tempat didirikannya musem. Contoh benda peninggalan Keraton Pleret yaitu umpak (batuan andesit yang dipakai sebagai landasan tiang); berbagai jenis arca bercorak Hindu; antefik; berbagai benda logam, seperti talam, entong, uang logam china dan berbagai peralatan rumah tangga berusia ratusan tahun yang sempat terpendam dan kini menjadi koleksi Museum Purbakala Pleret.
Museum Purbakala Pleret dibangun dengan tujuan melestarikan benda benda cagar budaya pada kawasan cagar budaya khususnya situs Sumur Gumuling, Masjid Kauman, situs Kedaton, Kerto, Keputren, dll. Sehingga fungsi museum ini yakni untuk menyimpan, merawat dan memajang benda cagar budaya dari kawasan Cagar Budaya Pleret dan situs-situs lain di Bantul. Maksud dari pelestarian benda-benda cagar budaya tersebut antara lain untuk meneliti data tentang sejarah kerajaan mataram Islam yang didirikan pertama di Kota Gede kemudian pindah ke Kerto lalu ke Pleret dan terakhir di Kartasura sebelum menjadi Keraton Sukarta dan Yogyakarta.  Gedung sebelah barat menyimpan koleksi-koleksi benda cagar budaya yang sudah teridentifikasi. 71 koleksi yang ada berasal dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY sedang ratusan koleksi lainnya dari hasil pengumpulan oleh Dinas Kepudayaan DIY- Ke 81 benda koleksi cagar budaya yang ada terdiri dari : mata uang cina, genda pendeta,  talam, fragmen cepuk, beliung, bokor, batu dan batu pipih, entong, arca Ganesha , arca Agastya, pipisan, gandik, dll.
Selain berfungsi untuk kantor, bangunan sisi tengah museum digunakan untuk menyimpan benda-benda cagar budaya yang telah ditemukan, tetapi masih dalam tahap identifikasi. Nantinya sebagian bangunan ini, juga digunakan untuk menyimpan dan memajang benda koleksi cagar budaya yang sudah teridentifikasi. Proses pendataan dan pengumpulan benda-benda cagar budaya yang masih tersebar di kawasan cagar budaya kelas C ini, terus dilakukan.
Selain koleksi benda-benda cagar budaya, museum ini juga memamerkan peta prakiraan lokasi keraton Mataram Pleret, silsilah raja-raja Mataram dan masa pemerintahannya serta foto-foto terkini dan sekelumit sejarah tentang situs-situs tersebut yang berada dalam kawasan cagar budaya pleret. Pukul 11.00 para siswa berkumpul di gazebo dan bersiap berangkat ke objek berikutnya, yaitu perpustakaan Grahatama Pustaka.
B.     Grahatama Pustaka
Seusai berkunjung ke Museum sejarah Purbakala Pleret, kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 30 menit menuju perpustakaan Grahatama Pustaka. Kami sampai di lokasi pada pukul 11.30. Sesuai jadwal, kami berkunjung ke museum perpustakaan Grahatama Pustaka pada pukul 12.20-14.30 WIB. Sebelum masuk ke perpustakaan Grahatama Pustaka, rombongan melakukan kegiatan isoma. Rombongan makan siang di gazebo-gazebo seputar Grahatama Pustaka. Seusai menikmati makan siang, para peserta dan pemandu melaksakan ibadah sholat Dhuzur di mushola yang ada di dalam Grahatama Pustaka.
Pada pukul 12.20 seusai istirahat dan sholat, rombongan peserta WKM SD ........................... di lobi utama Grahatama Pustaka dengan dipandu oleh petugas dari Grahatama Pustaka. Para peserta dijelaskan tentang profil Grahatama Pustaka dan diajak berkeliling untuk observasi ruang-ruang dan fasilitas yang ada di Grahatama Pustaka, seperti ruang  audiovisual, ruang koleksi, ruang anak, ruang musik, dsb.
Menurut keterangan yang kami dapatkan, Perpustakaan Grahatama Pustaka merupakan perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Grahatama Pustaka diresmikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X. Nama Grahatama Pustaka mengandung arti tempat menyimpan swaka. Karena di Perpustakaan ini terdapat berbagai koleksi buku yang masih baru hingga buku langka yang sudah dicetak lagi, baik dalam bentuk buku maupun digital.
Gedung perpustakaan  dirancang untuk mengakomodir fungsi perpustakaan sebagai institusi yang mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi bagi masyarakat luas. Gedung tersebut dibangun dengan empat menara menjulang yang mengandung makna empat kesempurnaan orang Jawa, yaitu Prakoso, Wulung, Wangi, dan Agung. Perpustakaan itu diharapkan mampu menjadi pintu gerbang bagi manusia dalam mencapai derajat tertinggi melalui pengetahuan yang terkandung dalam berbagai koleksi perpustakaan itu.
Perpustakaan Grahatama Pustaka berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektare. Perpustakaan ini memiliki tiga kantong parkir outdoor dan satu tempat parkir basement, sehingga pengunjung tidak perlu kebingungan untuk tidak kebagian lahan parkir.
Perpustakaan Grahatama Pustaka memiliki kurang lebih 7.500 judul yang merupakan koleksi langka berupa naskah kuno dan stablats. Namun, koleksi langka tersebut hanya bisa dibaca di tempat, dan untuk sejumlah  naskah kuno yang telah rapuh hingga kini terus dilakukan upaya alih media menjadi bentuk digital sehingga tetap bisa diakses. Perpustakaan juga memiliki koleksi buku sebanyak 180.000 judul. Sementara itu perpustakaan mampu menampung sebanyak 2.000 pengunjung. Koleksi perpustakaan sekitar 400.000 buku cetak dan 350.000 e-book
Perpustakaan Grahatama Pustaka diharapkan menjadi tempat belajar yang menyenangkan, karena didukung dengan berbagai fasilitas seperti ruang belajar, ruang audio visual, ruang digital, ruang bermain, ruang dongeng, ruang koleksi anak, dan ruang musik serta bioskop 6 Dimensi. Keberadaan bioskop 6 Dimensi menjadi salah satu fasilitas unggulan yang saat ini masih langka dimiliki oleh lembaga perpustakaan di tempat lain. Di samping  itu dilengkapi fasilitas kafetaria. Perpustakaan yang terbuka untuk umum ini, selain menyediakan fasilitas peminjaman juga dilengkapi dengan akses free wifi bagi para pengunjungnya.
Grahatama Pustaka merupakan perpustakaan umum, sehingga masyarakat umum bisa mengaksesnya dengan gratis, mulai dari anak-anak usia balita sampai orangtua. Gedung perpustakaan itu juga dibangun dengan menyediakan fasilitas akses bagi para penyandang disabilitas. Fasilitas tersebut berupa sejumlah komputer bersuara bagi tuna netra, di samping beberapa koleksi buku braille yang sudah bisa diakses. Jumlah koleksi dalam bentuk buku cetak sekitar 400 ribu buah dan buku digital 350 ribu, tetapi belum bisa diunggah karena sedang dalam proses untuk dibuat chip digital.
Di samping pelajar, masyarakat umum juga bisa menggunakan fasilitas perpustakaan  daerah, misalnya menyaksikan film dokumenter, dan film tentang pendidikan.
Pengunjung Grahatama Pustaka akan dilayani dengan jadwal buka pukul 08.00 WIB dan tutup pukul 22.00 WIB. Bagi pelajar dan mahasiswa cukup dengan menunjukkan kartu tanda pelajar atau kartu tanda mahasiswa untuk mendapatkan kartu perpustakaan. 
Seusai berkeliling untuk observasi berbagai ruang dan fasilitas yang ada, para peserta WKM dari SD ............................... menikmati tayangan bioskop 6D. Para peserta secara berkelompok dan bergiliran antre untuk menonton film 6D yang merupakan pengalaman pertama mereka. Pada pukul 14.30, peserta WKM berpamitan untuk kembali ke sekolah.





HASIL WAJIB KUNJUNG MUSEUM

A.     Hasil Kunjungan Museum Sejarah Purbakala Pleret
Beberapa hasil kunjungan yang diperoleh siswa dalam kegiatan WKM adalah sebagai berikut.
1.      Siswa memahami tujuan dibangunnya museum Sejarah Purbakala Pleret.
2.      Siswa mengetahui sejarah berdirinya Keraton Mataram di Pleret.
3.      Siswa mengetahui berbagai koleksi yang ada di museum.
4.      Siswa senang berkunjung ke museum Sejarah Purbakala Pleret.
5.      Siswa termotivasi untuk berkunjung ke musuem lagi dalam kesempatan yang lain.
B.     Hasil Kunjungan Perpustakaan Grahatama Pustaka
Beberapa hasil kunjungan yang diperoleh siswa dalam kegiatan WKM adalah sebagai berikut.
1.      Siswa memahami tujuan dibangunnya perpustakaan Grahatama Pustaka.
2.      Siswa mengetahui berbagai fasilitas yang ada di perpustakaan Grahatama Pustaka.
3.      Siswa memperoleh pengalaman menonton bioskop 6 dimensi.
4.      Siswa senang dan termotivasi untuk meluangkan waktu berkunjung ke perpustakaan Grahatama Pustaka guna menambah ilmu pengetahuan pada kesempatan yang lain.

 

PENUTUP

A.     Kesimpulan
Kegiatan Wajib Kunjung Museum merupakan kegiatan pembelajaran di luar kelas yang sangat menyenangkan dan edukatif. Melalui kegiatan ini peserta didik SD ................................. terlihat antusias dan merasa lebih nyaman serta bersemangat, sehingga mereka lebih mudah memahami pengetahuan sejarah yang ditersaji dalam WKM. Kegiatan ini juga mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan logis pada hal-hal yang mereka amati. Melalui WKM siswa merasa senang lebih mengenal sejarah Museum Perbakala Pleret dan Perpustakaan Grahatama Pustaka serta terhindar dari rasa jenuh belajar di sekolah.
B.     Saran
Sebaiknya kerjasama kegiatan Wajib Kunjung Museum antara SD ................................... dan Dinas Kebudayaan  dapat terjalin kembali tahun depan untuk memberikan kesempatan WKM bagi peserta didik yang belum mengikuti.
 

Sunday, 4 December 2016

Membiasakan (Tidak) Mencontek

Mencontek adalah perbuatan negatif yang dilakukan oleh siswa saat menjadi peserta tes atau ujian dengan cara meniru pekerjaan, membuka buku, membuka catatan, dan bekerjasama dengan peserta lain. 

Mencontek merupakan sebuah perbuatan yang pada awalnya dimulai dengan rasa was-was, berdebar-debar karena takut ketahuan, lambat laun bisa menjadi kebiasaan. Kebiasaan mencontek sudah jamak dibahas oleh para ahli pendidikan maupun psikologi. Akan tetapi nampaknya memang merupakan hal yang sejak dulu hingga sekarang belum teratasi. Malah dapat dikatakan semacam kebiasaan kronis yang menerpa peserta didik. 

Untuk memahami kebiasaan mencontek dapat dimulai  dari alasan-alasan peserta didik mencontek. Berdasarkan pengamatan dan wawancara sederhana dengan beberapa peserta didik secara umum diperoleh informasi penyebab mencontek sebagai berikut.
1. Perasaan belum siap mengikuti ulangan, tes, atau ujian
2. Perasaan belum menguasai materi yang diujikan
3. Perasaan berlebihan untuk memperoleh nilai sempurna tanpa diimbangi kemampuan dan usaha yang memadai
5. Perasaan takut kalah bersaing
6. Perasaan takut dimarahi jika mendapat nilai jelek
7. Perasaan takut tidak naik atau lulus dalam ujian
8. Perasaan berlebihan ingin mendapatkan ranking teratas
9. Perasaan berlebihan untuk masuk sekolah favorit
10. Perasaan berlebihan untuk mendapatkan iming-iming hadiah jika mendapat nilai yang baik

Penyebab-penyebab mencontek di atas kiranya perlu disikapi oleh berbagai pihak dalam rangka mendidik dan memperbaiki perilaku peserta didik agar tidak mencontek lagi.  Pihak-pihak yang dibutuhkan untuk menjalin kerjasama sesuai porsi dan tugas pokok dan fungsinya dalam proses perbaikan perilaku peserta didik adalah sebagai berikut.
1. Siswa
    - Belajar dengan sungguh-sunguh.
    - Menguasai materi yang diajarkan
    - Bertanya jika belum memahami
    - Mempersiapkan alat tulis sebelum mengikuti ujian
    - Datang lebih awal minimal 20 menit sebelum ujian
    - Menyesuaikan target nilai yang realistis dengan kemampuan yang dimiliki
    - Tidak berputus asa dalam belajar
    - Memperhatikan jika dijelaskan
    - Jangan meremehkan materi pelajaran yang diberikan
    - Selalu hormat terhadap guru
    - Mengikuti tata tertib ujian atau ulangan dengan baik

2. Guru
   - Menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan daya dukung, kompleksitas, dan intake
   - Menggunakan metode pembelajaran yang variatif sesuai materi dan karakteristik siswa
   - Membiasakan literasi dan latihan soal secara sistematis dan berkelanjutan
   - Memberi motivasi kepada anak untuk selalu giat belajar
   - Menghargai usaha anak
   - Memberikan umpan balik terhadap belajar anak
   - Memberikan kesempatan remidial dan pengayaan secara terprogram
   - Memberikan kesempatan siswa bertanya jika belum memahami materi
   - Menjelaskan tata tertib ulangan dan ujian

3. Sekolah
   - Memmberikan fasilitas sarana yang memadai untuk tempat ulangan atau ujian
   - Membuat tata tertib ulangan atau ujian
   - Mensosialisasikan tata tertib ulangan atau kepada guru dan siswa serta pihak terkait
   - Memberikan reward dan punishment yang mendidik bagi siswa.

Itulah bebrapa cara yang kiranya dapat diterapkan untuk membiasakan siswa agar tidak mencontek. Mungkin masih banyak cara lain yang dapat dilakukan untuk membiasakan siswa tidak mencontek selain cara di atas, akan tetapi semua cara itu akan jalan ditempat jika tidak ada pemahaman bersama terhadap pentingnya kebiasaan tidak mencontek dan komitmen bersama untuk membiasakan siswa tidak mencontek. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik dan komitmen bersama agar proses pembiasaan siswa agat tidak mencontek dapat berjalan sesuai apa yang diharapkan. 




Friday, 2 December 2016

Melihat dan Memaknai Demonstrasi Demokratis dengan Kacamata Dunia Pendidikan

Beberapa pekan ini berbagai media banyak memberitakan tentang adanya peristiwa demonstrasi. Peristiwa demonstrasi merupakan salah satu bentuk realitas sosial yang mengemuka di Indonesia akhir-akhir ini. Bermacam-macam tema, tujuan, dan substansi diusung dalam aksi demonstrasi. Ada tema kebangsaan, Bhineka Tunggal Ika, maupun Bela Islam I, II, dan yang teranyar adalah demonstrasi Bela Islam III atau juga dikenal dengan sebutan demo super damai 212. Demonstrasi damai apalagi super damai dalam kehidupan demokrasi dianggap konstitusional dan memang dijamin oleh Undang-Undang di Indonesia. Banyak pihak yang ikut dan banyak pula pemirsa yang tahu, tak terkecuali pemirsa dari orang-orang bahkan anak-anak yang masih berperan sebagai "subjek pendidikan". Tentunya dengan adanya pemirsa dari orang/anak yang masih menyandang peran sebagai "subjek pendidikan", maka diperlukan pemaknaan peristiwa demonstrasi dalam kehidupan demokrasi melalui kacamata dunia pendidikan.

Realitas sosial saat ini cenderung sudah sangat massif dan terbuka dengan adanya peran perkembangan media, baik media elektronik, media massa, maupun media sosial. Arus informasi tentang realitas sosial yang kadang tidak terbendung dan terfilter bahkan bersifat suul adab karena menegasikan sekat-sekat etis serta moralitas tentunya perlu disikapi bersama dengan bijak. Karena alasan itulah menjadi urgen dan penting untuk dapat melihat pemaknaan peristiwa demonstrasi sebagai salah satu realitas sosial melalui kacamata dunia pendidikan. Hal itu dikarenakan pengetahuan "subjek pendidikan" dibentuk melalui konstruksi terhadap realitas sosial.  Pemaknaan yang baik terhadap realitas sosial tentunya akan menghasilkan sebuah konstruksi pengetahuan yang kritis, positif, dan dinamis.

Hiruk pikuk peristiwa demonstrasi super damai 212 dapat dilihat dan dianalisis dari berbagai kacamata. Pun tidak hanya kacamata analisis politik dan hukum, kiranya bijaksana pula untuk  bersama-sama melihat dan menganalisis dengan kacamata dunia pendidikan. Adakah relevansi peristiwa 212 dengan dunia pendidikan? Sejauhmana peristiwa ini dapat dimaknai dalam dunia pendidikan? Adakah pula manfaat peristiwa yang dapat ditarik dalam dunia pendidikan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas kiranya perlu dengan pemikiran kritis dan reflektif dengan pendekatan yang se-edukatif mungkin. Tentunya analisis untuk menjawab akan berusaha terlepas dari substansi  peristiwa/aksi dari kacamata politik dan hukum yang telah jamak dibahas oleh berbagai tokoh serta diberitakan oleh berbagai media dari dalam maupun luar negeri. 

Peristiwa demonstrasi super damai 212 dalam kacamata dunia pendidikan dapat dipahami sebagai sebuah bentuk transformasi sosial, civil society unity dalam bingkai gerakan demokrasi yang aspiratif. Transformasi sosial di sini dimaksudkan bahwa harapan terjadinya perubahan sosial ke arah yang lebih baik sebagai reaksi atas suatu hal/peristiwa sebelumnya. Transformasi mewujud melalui gerakan kebersatuan rakyat untuk menyalurkan aspirasi-aspirasi secara demokratif dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Sedikit penulis mencoba analisis dengan menyerempetkan berdasarkan teori kritis dan teori tindakan komunikatif Habermas, setidaknya dapat ditarik benang merah relevansi peristiwa 212 dengan dunia pendidikan, yaitu : 
1. terbentuknya pemikiran (thought) berupa kebutuhan akan keadilan
2. beranjak kepada ujaran (words) berupa penyampaian aspirasi rakyat kepada pemerintah atau pihak-pihak terkait
3. melahirkan tindkan (action) berupa gerakan demonstrasi damai yang konstitusional
4. dapat menjadi kebiasaan baru (habit) berupa cerminan dari dan untuk bentuk kebiasaan positif dalam demokrasi berbangsa dan bernegara dalam penyampaian aspirasi
5. menjadi karakter (character) berupa terbentunya karakter bangsa yang demokratis
6. mewujudkan tujuan dan cita-cita (destiny) berupa tujuan Indonesia yang bersatu, adil, demokratif, berkarakter, dan sejahtera.

Disadari bersama bahwa memang pendidikan merupakan garda terdepan dalam membentuk kesadaran bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, oleh karena itu peristiwa 212 sebagai salah satu peristiwa sosial relevan untuk dapat dimaknai secara langsung maupun tidak langsung untuk kebutuhan dan tujuan pendidikan. Proses pemaknaan peristiwa 212 oleh dunia pendidikan sangat dibutuhkan dan penting karena pendidikan juga merupakan agen perubahan, di mana out put pendidikan akan menyiapkan generasi penerus bangsa yang saat ini berperan sebagai "subjek pendidikan" yang secara langsung atau tidak langsung telah menyaksikan atau minimal tahu akan peristiwa 212. Pemaknaan dan penerimaan pesan dari peristiwa yang salah dikhawatirkan akan menimbulkan efeksamping negatif ke depan terhadap "subjek pendidikan" terutama dalam pembentukan karakter bangsa.

Pemaknaan peristiwa 212 dengan kacamata dunia pendidikan penting untuk membentuk suatu kesadaran masyarakat tentang kehidupan demokrasi. Hal itu diterapkan melalui proses edukatif pembentukan pemahaman bahwa tindakan komunikasi yang baik dan benar menjadi mutlak perlu dilakukan dalam interksi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Begitu pula pemaknaan akan pentingnya kesadaran untuk saling menghormati, menjaga, mengayomi, asah-asih-asuh, toleransi dalam keberagaman dan pluralisme. Tentunya pentingpula untuk pemaknaan guna penanaman kesadaran nurani yang objektif dari relaitas-relaitas sosial dalam peristiwa sehari-hari, lokal, nasional, maupun internasional dalam proses edukasi pembentukan karakter bangsa pada "subjek pendidikan".

Pendidikan adalah suatu proses menyadarkan peserta didik dalam hal ini tidak terbatas para siswa namun mahasiswa, juga masyarakat sebagai "subjek pendidikan" terhadap realitas. Akan tetapi kesadaran ini tidak terbatas pada kesadaran kritis terhadap realitas, namun lebih jauh kepada bagaimana mendapatkan pemahaman, manfaat atau hikmah dari sebuah peristiwa yang terjadi. Adapun beberapa manfaat yang dapat diambil atau diimplementasikan dunia pendidikan sebagai relevansi dari peristiwa 212 adalah sebagai berikut.
1.  Peningkatan iman dan taqwa
2.  Penguatan nasionalisme
3.  Pemahaman akan pentingnya bersatu dalam keberagaman dan plurarlisme
4.  Penguatan toleransi, saling menghormati, menghargai, asah-asih, dan asuh
5.  Peningkatan kemampuan komunikasi yang baik, benar, dan beretika
6.  Peningkatan seni musyawarah mufakat untuk pemecahan masalah
7.  Penguatan pembelajaran yang kooperatif, kolaboratif, dan demokratif
8.  Internalisasi pembentukan karakter bangsa secara intensif dan bermakna
9.  Peningkatan pengalaman praktik demokrasi di sekolah-sekolah
10. Peningkatan sinergi antar kompenen bangsa temasuk dunia pendidikan guna mewujudkan tujuan bangsa Indonesia.

Kiranya berdasarkan ulasan di atas, penulis dapat mengatakan bahwa demonstrasi demokratis khususnya peristiwa 212 relevan untuk dimaknai dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan dan tujuan pendidikan. Pemaknaan yang baik oleh dunia pendidikan akan dapat memberikan arah yang baik pula kepada "subjek pendidikan" guna menjadi manusia pembelajar yang mampu menangkap secara positif dan konstruktif pengetahuan baru dan pesan-pesan/hikmah dalam setiap realitas-realitas kehidupan sehari-hari yang dialami maupun dalam kehidupan bermasayarakat, berbangsa, dan bernegara. "Subjek pendidikan" yang menjadi manusia pembelajar, akan mampu menghasilkan thought, word, action, habit, charakter dan destiny yang positif, dinamis, konstruktif, demokratis, dan agamis. Dengan begitu dunia pendidikan akan mampu menghasilkan out put "subjek pendidikan" sebagai generasi handal Indonesia di masa depan.

Sumber: 
http://blog.umy.ac.id/noorsetya/2013/04/03/transformasi-sosial/
http://kbbi.kata.web.id/suul-adab/

Monday, 21 November 2016

A Sampai Z Kebiasaan Siswa Kelas VI Sekolah Dasar

Pengertian Kebiasaan Siswa
Menurut Kamus Besar Bahasa indonesia (KBBI), kebiasaan dapat diartikan sebgai (1) sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; (2) Istilah antropologi pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan adalah hal-hal yang biasa dikerjakan oleh siswa yang membentuk suatu pola perulangan terhadap hal yang sama.

Jenis-jenis Kebiasaan Siswa
Jenis-jenis kebiasaan dapat dibedakan berdasarkan kandungan nilai-nilai moral. Menurut Djahiri dalam Pramudya (2012), nilai adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara fungsional. Disini, nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku. Menurut KBBI, nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Menurut Suseno dalam Pramudya (2012), moral adalah ukuran baik-buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Menurut KBBI, moral adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila. Menurut A. Mangunhardjana dalam wikipedia.org (2016), nilai moral adalah nilai yang menjadikan manusia berharga, baik, dan bermutu sebagai manusia. Sedangkan menurut Max Scheler dalam wikipedia.org (2016), nilai moral merupakan sistem nilai utama antara nilai-nilai yang ada dalam diri manusia dengan nilai-nilai yang ditemukan dalam sebuah era atau bangsa. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa nilai moral adalah sifat-sifat yang bermakna dan berkualitas baik dalam perilaku kemanusiaan. Ada empat jenis

Berdasarkan nilai-nilai moral yang dikandung, kebiasaan siswa dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Kebiasaan baik siswa
Kebiasaan baik adalah hal-hal yang mengandung nilai moral yang biasa dikerjakan secara berulang-berulang oleh siswa.
2. Kebiasaan buruk siswa
Kebiasaan buruk adalah hal-hal yang tidak mengandung nilai moral yang biasa dikerjakan secara berulang-berulang oleh siswa.

Kebiasaan Siswa Kelas VI Sekolah Dasar
Menurut teori pekembangan kognitif Jean Piaget, siswa kelas VI SD masih dalam tahap operasional konkret (usia 7-11 tahun). Dalam tahap ini siswa kelas VI sudah mulai menghilangkan sifat egosentrismenya. Hal itu terlihat pula dalam kebiasaan-kebiasaan siswa kelas VI. Meski kebiasaan sekolah satu dengan sekolah yang lain mungkin berbeda. Berdasarkan pengamatan di sekolah dapat diperoleh data amatan kebiasaan-kebiasaan baik dan buruk siswa kelas VI di antaranya sebagai berikut.
1.  Kebiasaan baik
a. Membuang sampah pada tempatnya, aktif tugas piket, dan merawat tanaman sekolah
b. Mengerjakan soal-soal latihan ujian
c. Berani menjadi petugas upacara bendera
d. Berdoa sebelum dan sesudah belajar
e. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
f. Membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran dimulai
g. Menyiapkan alat tulis dan buku yang diperlukan untuk mata pelajaran yang akan dipelajari tanpa disuruh
h. Menyimak penjelasan guru
i. Mau bekerjasama dalam kelompok belajar
j. Mau bertanya ketika mengalami kesulitan
k. Mau menjadi tutor sebaya bagi siswa yang sudah paham/mampu
l. Mengerjakan tugas-tugas dari guru dengan baik
m. Menggunakan media dan sumber belajar untuk menyelesaikan tugas
n. Percaya diri menyampaikan pendapat atau presentasi
o. Berpartisipasi aktif dalam membuat kesimpulan pada akhir pembelajaran
p. Belajar dengan tenang, fokus, dan tidak mengganggu teman lain
q. Merawat buku paket dan media yang digunakan dalam belajar
r. Menyimpan kembali buku, alat, dan media belajar seusai digunakan
s. Mengumpulkan tugas secara antre dengan tertib tanpa saling mendahului
t. Menilaikan hasil tugas secara tepat waktu
u. Memperhatikan ketika dipanggil untuk dimasukkan nilai tugas-tugasnya
v.  Menghargai dan menghormati guru dan tamu sekolah
w. Rukun dan saling tolong-menolong dengan sesama teman
x. Rukun, membimbing, dan menjaga adik kelas
y. Menjaga kerapian, kesopanan, ketertiban, dan kesehatan diri
z. Senang berolahraga dan berkunjung ke perpustakaan

2.  Kebiasaan buruk
Kebiasaan buruk siswa merupakan negasi dari kebiasaan baik siswa. Beberapa kebiasaan buruk siswa kelas VI SD yang perlu di perbaiki diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Datang terlambat
b. Tidak mengerjakan tugas guru
c. Menyalin pekerjaan teman
d. Mengejek teman lain
e. Bekelahi dengan teman atau adik kelas
f. Menghindar atau enggan bekerjasama dalam kelompok belajar
g. Tidak merawat buku-buku yang dipinjamkan sekolah
h. Tidak khidmat dalam mengikuti upacara bendera
i. Mencorat-coret meja, kursi, dan dinding sekolah
j. Tidak rajin berlatih soal-soal ujian
k. Tidak mau bertanya ketika kesulitan
l. Enggan membuka buku atau mencari sumber belajar ketika kesulitan menjawab soal
m. Tidak percaya diri dalam mengemukakan pendapat dan presentasi
n. Kurang patuh terhadap ketua kelas
o. Masih ramai dan tidak konsentrasi dalam pembelajaran
p. Lupa membawa alat tulis atau buku pelajaran
q. Tidak antre secara tertib ketika mengumpulkan tugas
r. Kurang memperhatikan ketika dipanggil untuk dimasukkan nilai hasil belajar
s. Iseng dan mengganggu teman lain dalam belajar
t. Merasa menang sendiri terhadap adik kelas
u. Masih jajan ketika bel sudah masuk
v. Tidak mengerjakan tugas piket dan enggan ikut kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah
w. Tidak sarapan
x. Banyak mengeluh capek ketika mengikuti tambahan pelajaran atau les
y. Membuang sampah sembarangan
z. Tidak mencuci tangan dan membersihkan diri sehabis olahraga

Sumber:
http://kbbi.kata.web.id/kebiasaan/
https://tumpalsimamora.wordpress.com/2009/07/21/habit-and-attitude/
https://id.wikipedia.org/wiki/Aksiologisme
https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif#Tahapan_operasional_konkrit
https://books.google.co.id/books?id=fwAgV02_J2oC&pg=PA65&lpg=PA65&dq=nilai-nilai+moral
Pramudya Y. A. (2012). pengertian-nilai-moral-dan-norma. http://coretanseadanya.blogspot.co.id
http://kbbi.web.id/moral
http://kbbi.web.id/nilai

Wednesday, 16 November 2016

Pendidikan yang Mengentaskan (Newer Hope)

Beberapa hari yang lalu penulis sempat berbincang-bincang dengan salah satu tokoh pendidik. Beliau bercerita tentang kisah seorang bapak yang dilihat secara ekonomi tergolong menengah ke bawah. Latar belakang pendidikannya pun tidak tinggi. Bapak itu adalah orang yang sangat sederhana, mau bekerja serabutan asalkan halal. Biasanya bertani, menjadi tukang batu, tak jarang tukang kayu undangan dari masyarakat sekitarpun ia jalani dengan lapang hati. Untuk bayaran, bapak itu bisaya tidak ngarani. Meski dengan penghasilan pas-pasan tapi beliau tetap berusaha menyekolahkan putra-putrannya. Ada yang masih di sekolah dasar, ada pula yang di sekolah menengah. Tak ayal untuk kecukupan biaya pendidikan putra-putranya, bapak itu harus memutar otak. Terpikirlah memperbaiki nasib, menambah penghasilan. Beliau merantau ke kota meninggalkan desanya dan sawah yang selama ini beliau garap. Beliau memutuskan untuk menjadi penjual bubur di kota. Untuk memperlancar usahanya beliau menyewa sebuah rumah kecil seharga Rp 500.000 per bulan. Rumah itu berfungsi untuk berjualan, rumah tinggal, sekaligus dapur masak. Akan tetapi sudah empat bulan berusaha alih karya untuk merubah nasib, nampaknya beliau belum berhasil.  Empat bulan berlalu namun uang sewa rumah pun belum dapat terbayar.

Seusai bercerita tokoh pendidik itu mencoba memberikan analisisnya tentang cerita yang baru saja beliau utarakan. Menurut beliau selain dengan kunci berdoa, asalkan halal mungkin banyak cara yang dapat diusahakan untuk memperbaiki nasib seseorang. Banyak jalan yang dapat ditempuh untuk sebuah ikhtiar seorang meningkatkan ekonomi. Ada orang-orang yang memang sukses dari awal dengan cara bertani, berdagang, menjadi pegawai, dsb. Meski begitu tidak sedikit orang yang belum berhasil meningkatkan ekonomi. Akan tetapi banyak pula orang yang meningkat ekonominya setelah mantap banting stir dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya. Seperti seorang karyawan roti senior dengan gaji bagus rela keluar untuk merintis usaha dan sukses. Ada yang dulunya seorang karyawan pabrik jamur dan sudah hampir pensiun kemudian merintis restoran jamur dan atas izin Allah menjadi sangat sukses, dengan ratusan karyawan. Masih banyak pula contoh-contoh lain yang dapat diamati di lingkungan sekitar masing-masing. Akan tetapi ada satu cara dari sekian cara yang lebih secara masif diharapkan dapat memajukan seseorang, menjadi harapan perbaikan nasib, dari segi sosial dan ekonomi bahkan emosional serta sepiritual, yaitu melalui pendidikan. Tentunya pendidikan yang mengentaskan. Oleh karena itu pendidikan lah yang harus kita perhatikan bersama, kita tumbuh kembangkan bersama, kita perbaiki, kita majukan seiring tantangan era globalisasi dengan harapan yang lebih baru (newer hope).

Sumber:
http://www.wordwebonline.com/en/NEW
https://books.google.co.id/books

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...