Showing posts with label Dunia Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Dunia Pendidikan. Show all posts

Wednesday, 21 February 2024

Belajar Teori Neurosains

Hari ini saya mencoba membaca tentang teori belajar neurosains. Neurosains merupakan sebuah rujukan yang dipakai oleh para pakar pendidikan Islam. Neurosains menemukan bahwa seluruh potensi anak didik bertumpu pada otaknya (Salamah Eka Susanti, 2021). Sangat menarik, artikel yang ditulis Salamah Eka Susanti tentang Pembelajaran Anak Usia Dini Dalam Kajian Neurosains dengan tujuan   to describe the importance of neuroscience approach for early childhood in the learning process. Di dalam artikel dituliskan bahwa Sejak dipublikasikannya teori tentang neurosains, khususnya fakta mengenai perkembangan otak anak, terlebih lagi temuan di bidang neurosains telah mengantarkan para psikolog sampai pada sebuah kesimpulan bahwa usia dini merupakan usia emas (golden ages). 

Membaca artikel ini mengingatkan saya pada sebuah keinginan yang dulu pernah saya usahakan namun belum berhasil, yaitu mendirikan lembaga pendidikan PAUD-TK. Ada beberapa langkah yang sudah saya tempuh dalam mewujudkan keinginan tersebut, di antaranya bertukar pikiran dengan rekan, berkonsultasi dengan Kepala RA, Guru Ra, dan meminta izin tempat pada Pengasuh Pondok Pesantren, berkonsultasi dengan Pamong dusun. Akan tetapi langkah tersebut belum cukup untuk mewujudkan keinginan karena kendala tempat, guru, dan pendanaan. Mungkin suatu saat keinginan itu terwujud, tentunya atas ridha Allah S.WT. 

Mengapa membangun lembaga PAUD-TK penting? Hal itu setidaknya karena beberapa alasan. Alasan pertama adalah karena alasan pribadi, saya memiliki tiga anak usia PAUD-TK, dengan kesibukan bekerja yang jauh dari rumah, mendirikan PAUD-TK menjadi salah satu opsi di samping memasukkan ke PAUD-TK yang sudah ada namun jaraknya cukup jauh dari rumah, tentunya harus ada yang antar jemput. Alasan kedua adalah di Desa saya belum ada PAUD, baru ada TK dan RA, yang agak jauh jaraknya dari rumah. Alasan ketiga, banyak anak usia dini yang berada di rumah, diasuh oleh ibu-ibu yang kebanyakan ibu rumah tangga. Alasan keempat memajukan pendidikan di Desa dengan mendirikan lembaga pendidikan PAUD-TK. Alasan ke keempat adalah ingin mengintegrasikan pembelajaran sosial-emosional, fisik-motorik, moral-spiritual dipadu dengan kesehatan jasmani.  Beberapa alasan lain yang relevan, namun tidak saya tuliskan.



Sunday, 18 February 2024

Catatan Teori Behavioristik

Teori behavioristik merupakan salah satu teori yang digunakan bapak ibu guru di sekolah. Teori belajar behavioristik adalah teori belajar yang berfokus pada perubahan perilaku murid sebagai hasil dari proses pembelajaran. Menurut teori behavioristik, perubahan perilaku murid disebabkan oleh adanya interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus tersebut berupa lingkungan belajar murid, baik bersifat internal maupun eksternal, sedangkan respon merupakan reaksi fisik terhadap rangsangan atau stimulus yang diterima.  Salah satu faktor yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) baik (positive reinforcement) maupun (negative reinforcement). Tokoh-tokoh dalam teori behavioristik adalah teori belajar koneksionisme dengan tokoh Edward Lee Thorndike; Teori belajar classical conditioning dengan tokoh Ivan Pavlov; dan Teori belajar descriptive behaviorism atau operant conditioning dengan tokoh Burrhus Frederic Skinner. Penerapan dari teori behavioristik di dalam kelas lebih banyak pada guru sebagai pusat pembelajaran atau teacher centered.

Contoh ilustrasi pembelajaran menggunakan teori behavioristik adalah sebagai berikut.
Suatu hari di SD Nusantara ada Ibu Santi mengajar materi tentang jenis-jenis paragraf. Sebagai persiapan mengajar, Ibu Santi telah menyusun materi atau bahan ajar secara lengkap, mulai dari materi sederhana sampai kompleks. Ada dua jenis paragraf yang akan diberikan sebagai materi oleh Ibu Santi, yaitu jenis paragraf narasi dan deskripsi. Saat di kelas Ibu Santi mempersiapkan siswa dengan asesmen diagnostik kognitif. Asesmen diagnostik digunakan untuk mengetahui dan mengukur kemampuan awal siswa untuk masuk dalam materi baru. Pertanyaan yang digunakan sebagai asesmen adalah menanyakan pemahaman prasyarat siswa yaitu bagaimana pemahaman mereka tentang kalimat utama dan kalimat penjelas. Pertanyaan kedua adalah apa pengalaman mereka dalam membaca jenis paragraf dalam buku cerita. 

Ibu Santi menjelaskan materi tentang jenis paragraf narasi dan deskripsi, siswa menyimak penjelasan. Ibu Santi memberikan contoh-contoh paragraf narasi dan dsekripsi, siswa menyimak dan memhami. Ibu Santi memberi tugas untuk mengidentifikasi jenis-jenis paragraf dari bahan bacaan yang disajikan. Ibu Santi memberikan latihan soal tentang paragraf narasi dan deskripsi. Ibu Santi memberikan banyak pengulangan pembelajaran berupa latihan agar terbentuk pemahaman yang kuat tentang jenis paragraf narasi dan deskripsi pada siswa. 





Sunday, 11 September 2022

Para Siswa Nglaksanakake PTS

sumber : ilustrasi kadesain dening Ibu Tuti

 Dina Senin tekan Setu iki para siswa kelas siji tekan enem ing SD Negeri Pendowoharjo, Sleman nglaksanakaké Penilaian Tengah Semester (PTS). PTS dilaksanakaké kanthi cara tès tertulis. Déne soalé digawé déning tim saka Koordinator Wilayah Kapanéwon Sleman. Wektuné PTS wiwit tabuh pukul setengah wolu nganthi tabuh pukul sewelas. Sakdurunge lan sakwisé rampung nggarap soal, para siswa dedonga bareng-bareng dipimpin ketua kelas. Bapak utawa ibu guru bagekaké soal lan lembar wangsulan. Para siswa nggarap soal kanthi tertib lan patitis. Sakwisé rampung, soal lan lembar wangsulan banjur dikumpulaké maneh datheng bapak utawa ibu guru. PTS kaajab bisa kanggo ngukur capaian kompetensi para siswa lan asilé kanggo bahan ningkataké kompetensi para siswa kasebut.

Gambar ilustrasi para siswa nglaksanakake PTS
Sumber: dokumen pribadi


From Monday to Saturday, the students from grades one to six at SD Negeri Pendowoharjo, Sleman will conduct the Mid-Semester Assessment (PTS). PTS is conducted through a written test. The question was made by the team from the Regional Coordinator of Kapanewon Sleman. PTS time is from half past eight to eleven o'clock. Before and after they finish working on the questions, the students pray together led by the class leader. The teacher distributes questions and answer sheets. The students work on the questions in an orderly and patient manner. After finishing, the questions and answer sheets are collected again by the teacher. PTS is expected to measure the achievement of the competence of the students and the results for the materials to improve the competence of the students.


꧋ꦣꦶꦤꦱꦼꦤꦶꦤ꧀ꦠꦼꦏꦤ꧀ꦱꦼꦠꦸꦆꦏꦶꦥꦫꦱꦶꦱ꧀ꦮꦏꦼꦭꦱ꧀ꦱꦶꦗꦶꦠꦼꦏꦤ꧀ꦄꦼꦤꦼꦩ꧀ꦆꦁꦱ꧀ꦝ꧀ꦤꦼꦒꦼꦫꦶꦥꦼꦤ꧀ꦝꦺꦴꦮꦺꦴꦲꦂꦗꦺꦴ꧈ꦱ꧀ꦭꦺꦩꦤ꧀ꦔ꧀ꦭꦏ꧀ꦱꦤꦏꦏꦺꦥꦼꦤꦶꦭꦻꦪꦤ꧀ꦠꦼꦔꦃꦱꦺꦩꦺꦱ꧀ꦠꦼꦂ(ꦥ꧀ꦠ꧀ꦱ꧀)꧉ꦥ꧀ꦠ꧀ꦱ꧀ꦝꦶꦭꦏ꧀ꦱꦤꦏꦏꦺꦏꦤ꧀ꦛꦶꦕꦫꦠꦺꦱ꧀ꦠꦼꦂꦠꦸꦭꦶꦱ꧀꧈ꦣꦺꦤꦼꦱꦺꦴꦮꦭꦺꦣꦶꦒꦮꦺꦣꦺꦤꦶꦁꦠꦶꦩ꧀ꦱꦏꦏꦺꦴꦎꦂꦣꦶꦤꦠꦺꦴꦂꦮꦶꦭꦪꦃꦏꦥꦤꦺꦮꦺꦴꦤ꧀ꦱ꧀ꦭꦺꦩꦤ꧀꧈ꦮꦼꦏ꧀ꦠꦸꦤꦺꦥ꧀ꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦠꦧꦸꦃꦥꦸꦏꦸꦭ꧀ꦱꦼꦠꦼꦔꦃꦮꦺꦴꦭꦸꦔꦤ꧀ꦛꦶꦠꦧꦸꦃꦥꦸꦏꦸꦭ꧀ꦱꦼꦮꦼꦭꦱ꧀꧈ꦱꦏ꧀ꦝꦸꦫꦸꦔꦺꦭꦤ꧀ꦱꦏ꧀ꦮꦶꦱꦺꦫꦩ꧀ꦥꦸꦁꦔ꧀ꦒꦫꦥ꧀ꦱꦺꦴꦮꦭ꧀‌ꦥꦫꦱꦶꦱ꧀ꦮꦣꦼꦣꦺꦴꦔꦧꦉꦁꦧꦉꦁꦣꦶꦥꦶꦩ꧀ꦥꦶꦤ꧀ꦏꦼꦠꦸꦮꦏꦼꦭꦱ꧀꧈ꦧꦥꦏ꧀ꦈꦠꦮꦆꦧꦸꦒꦸꦫꦸꦧꦒꦺꦏꦏꦺꦱꦺꦴꦮꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦊꦩ꧀ꦧꦂꦮꦁꦱꦸꦭꦤ꧀꧈ꦥꦫꦱꦶꦱ꧀ꦮꦔ꧀ꦒꦫꦥ꧀ꦱꦺꦴꦮꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦛꦶꦠꦼꦂꦠꦶꦧ꧀ꦭꦤ꧀ꦥꦠꦶꦠꦶꦱ꧀꧈ꦱꦏ꧀ꦮꦶꦱꦺꦫꦩ꧀ꦥꦸꦁ꧈ꦱꦺꦴꦮꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦊꦩ꧀ꦧꦂꦮꦁꦱꦸꦭꦤ꧀ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦣꦶꦏꦸꦩ꧀ꦥꦸꦭꦏꦺꦩꦤꦺꦃꦣꦛꦺꦁꦧꦥꦏ꧀ꦈꦠꦮꦆꦧꦸꦒꦸꦫꦸ꧉ꦥ꧀ꦠ꧀ꦱ꧀ꦏꦄꦗꦧ꧀ꦧꦶꦱꦏꦁꦒꦺꦴꦔꦸꦏꦸꦂꦕꦥꦻꦪꦤ꧀ꦏꦺꦴꦩ꧀ꦥꦼꦠꦺꦤ꧀ꦱꦶꦥꦫꦱꦶꦱ꧀ꦮꦭꦤ꧀ꦄꦱꦶꦭꦺꦏꦁꦒꦺꦴꦧꦲꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦠꦏꦺꦏꦺꦴꦩ꧀ꦥꦼꦠꦺꦤ꧀ꦱꦶꦥꦫꦱꦶꦱ꧀ꦮꦏꦱꦺꦧꦸꦠ꧀꧈


Tuesday, 8 February 2022

Seputar Pemimpin Pembelajaran

Sekolah adalah ‘institusi moral’  yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah.

Dalam pengambilan suatu keputusan, tidak jarang kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti.  Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.

Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid. Diane Gossen (1998) berpendapat bahwa bila kita ingin menumbuhkan motivasi instrinsik dari dalam diri seseorang maka tumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan universal.

Beberapa nilai kebajikan universal adalah:

Sembilan Pilar Karakter Indonesian Heritage Foundation (IHF):

  • Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA
  • Kemandirian dan Tanggung jawab
  • Kejujuran (Amanah), Diplomatis
  • Hormat dan Santun
  • Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong
  • Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras
  • Kepemimpinan dan Keadilan
  • Baik dan Rendah Hati
  • Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan
Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) 
    Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda.
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 
    Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
    Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 
    Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan seharihari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll

ilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. 

Beberapa pertimbangan dalam pengambilan keputusan adalah:

  1. Melakukan, demi kebaikan orang banyak.
  2. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri Anda.
  3. Melakukan apa yang Anda harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Anda. 

Tiga prinsip pengambilan keputusan, prinsip tersebut adalah:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Friday, 29 October 2021

BUDAYA POSITIF

Kiranya Sebagian besar dari kita akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan. Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal hal itu berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu merupakan salah satu alternatif terakhir bahkan jika perlu tidak digunakan sama sekali.

    Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. 
(Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)

Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang berasal dari motivasi internal dalam diri murid. Jika belum memiliki motivasi internal, maka murid memerlukan pihak lain dalam hal ini guru untuk mendisiplinkan murid atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri murid  sendiri.

Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menumbuh kembangkan anak-anak yang memiliki disiplin diri dari motivasi internal sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai luhur atau mulia. 

Para pendidik di SD Negeri Pendowoharjo, Sleman berusaha untuk menanamkan disiplin positif kepada murid-murid. Disiplin positif ini tentunya sangat dibutuhkan oleh murid. Terlebih lagi dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah. Disiplin positif dibutuhkan agar anak-anak tetap sehat dan selamat, sehingga tidak ada klaster baru Covid-19. Pembelajaran akan diizinkan dan terus berlangsung jika murid-murid tetap sehat dan selamat. Hal itu tentunya menjadi harapan kita semua. Murid-murid menerapkan protokol kesehatan dengan motivasi internal agar mereka sehat dan selamat dan dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik.  
 
Gambar 1. antre cuci tangan

Gambar 2. Mencuci tangan dengan sabun di air mengalir

Gambar 3. Penerapan prokes dengan pengecekan suhu


Gambar 4. Berbaris sebelum masuk kelas



Gambar 5: Siswa tertib masuk kelas satu persatu saat sirkulasi pembelajaran dengan memerhatikan jaga jarak




Gambar 6. Menciptakan suasana kondusif di kelas sesuai keyakinan kelas


Gambar 7: Siswa tetap tertib meski dalam kelompok belajar tetap menjaga protokol kesehatan


Seorang murid yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.

Budaya Positif

Budaya positif perlu diciptakan di kelas dan sekolah. Budaya positif memerlukan disiplin diri dari warga kelas dan sekolah. Budaya positif dapat diwujudkan di antaranya dengan pembentukan keyakinan kelas, posisi kontrol guru yang positif, dan menerapkan segitiga restitusi. Melalui budaya positif terwujud pembelajaran yang kondusif, berkualitas, dan berpihak pada murid. Banyak contoh budaya yang bisa diterapkan oleh murid-murid baik di rumah maupun sekolah. Di sekolah bisa dengan menerapkan 3S TOMAT (senyum salam sapa tolong maaf dan terima kasih).  DI rumah murid-murid bisa literasi dengan membaca buku atau dari media yang disiapkan guru sesuai tema.




Gambar 9: Siswa di rumah melaksanakan literasi membaca dengan memanfaatkan media teknologi informasi


 Tujuan dari disiplin positif murid adalah disiplin diri dengan menanamkan motivasi pada murid-murid, yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Murid-murid akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang murid-murid  hargai.

Pembentukan Keyakinan Kelas: 

Untuk membangun budaya positif dapat dilakukan dengan membuat keyakinan kelas.

- Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.

- Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal. 

- Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif. 

- Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas. 

- Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut. 

- Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat. 

- Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.





Gambar 10: Kesepakatan kelas yang dibuat mencerminkan "SATRIYA" Sehat, Aman, Tertib, Indah, dan Jaya dibuat bersama oleh guru dan murid. Identifikasi bersama tugas murid dan bukan tugas murid


Kebutuhan Dasar 

Dalam menciptakan budaya positif guru kiranya perlu memahami kebutuhan dasar murid. Seluruh tindakan murid memiliki tujuan tertentu. Semua yang dlakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang murid inginkan. Ketika murid  mendapatkan apa yang mereka inginkan, sebetulnya saat itu mereka sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar murid, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Posisi Kontrol

Ada 5 posisi kontrol yang dapat diterapkan seorang guru,  dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol guna menciptakan budaya positif. Posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer. Posisi kontrol yang seyogianya diterapkan adalah teman, pemantau, dan manajer.

Segitiga Restitusi

Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.

Proses ini meliputi tiga tahap dan setiap tahapnya berdasarkan pada prinsip penting dari Teori Kontrol, yaitu Langkah Teori Kontrol 1 Menstabilkan Identitas Stabilize the Identity Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan 2 Validasi Tindakan yang Salah Validate the Misbehaviour Semua perilaku memiliki alasan 3 Menanyakan Keyakinan Seek the Belief Kita semua memiliki motivasi internal.


Video gambaran budaya positif



Refleksi:

Disiplin positif yang berasal dari motivasi internal lebih kuat dibanding disiplin dari motivasi eksternal, untuk itu kiranya perlu ditananmkan sejak dini.


Tuesday, 12 October 2021

Demonstrasi Kontekstual Modul 1.4. Penerapan Segitiga Restitusi (Tugas Guru Penggerak)

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004) 

Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.

Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menangmenang. 

BERSAMA MEMBANGUN KOMUNITAS PRAKTISI


 Komunitas Pembelajaran Integrasi Literasi (Kompilasi) Satriya 


Istilah Komunitas Praktisi diperkenalkan oleh Etienne Wenger dalam bukunya Community of Practice. Ia mengatakan bahwa Komuni tas Prakt i s i adalah “Sekelompok individu yang memiliki semangat dan kegelisahan yang sama tentang praktik yang mereka lakukan dan ingin melakukannya dengan lebih baik dengan berinteraksi secara rutin” (Wenger, 2012).

Komunitas praktisi dibentuk dengan tujuan:

1. Mengedukasi anggota dengan mengumpulkan dan berbagi informasi yang berkaitan dengan masalah dan pertanyaan tentang praktik pengajaran dan pembelajaran

2. Memberi dukungan pada anggota melalui interaksi dan kolaborasi sesama anggota

3. Mendampingi anggota untuk memulai dan mempertahankan pembelajaran mereka

4. Mendorong anggota untuk menyebarkan capaian anggota melalui diskusi dan berbagi

5. Mengintegrasikan pembelajaran yang didapatkan dengan pekerjaan sehari-hari


Komunitas praktisi memberikan wadah bagi para guru untuk belajar dan berpartisipasi dalam pengembangan diri mereka. Interaksi dan dialog antara anggota komunitas dapat berupa berbagi kekhawatiran, masalah, dan praktik baik untuk direfleksikan bersama-sama. Dengan begitu, anggota komunitas dapat saling dukung untuk mandiri dan berdaya memenuhi kebutuhan profesionalismenya. Maka, penting bagi semua anggota komunitas untuk berkontribusi dan memanfaatkan semua aktivitas di dalam komunitas.


Ada tiga tahapan pengembangan komunitas praktisi.

1. Tahap merintis

2. Tahap menumbuhkan

3. Tahap merawat berkelanjutan


Pada Sabtu, 9 Oktober 2021, Calon Guru Penggerak (CGP) melaksanakan tugas Pendidikan dan Pelatihan Calon Guru Penggerak yang diikuti untuk membuat komunitas praktisi di sekolah. Pembentukan komunitas praktisi bertujuan di antaranya untuk bersama-sama menemukan solusi permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran sehingga kualitas pembelajaran meningkat, mengembangkan profesionalitas guru, meningkatkan praktik baik pembelajaran dengan integrasi literasi. Komunitas praktisi beranggotakan guru kelas  I s.d. VI dan guru mata pelajaran. Adapun langkah yang ditempuh CGP dalam membangun komunitas praktisi di antaranya sebagai berikut.

1. Berkonsultasi dengan pimpinan untuk memperoleh dukungan dan saran yang membangun

Gambar 1. Konsultasi kepada pimpinan untuk pembentukan komunitas praktisi

2. Berdiskusi dengan teman sejawat

Gambar 2. Diskusi dengan teman sejawat untuk pembentukan komunitas praktisi


3. Rapat koordinasi sekolah
Gambar 3. Pembahasan Komunitas Praktisi dalam rapat koordinasi sekolah

 

Komunitas praktisi yang dibentuk diberi nama Komunitas Integrasi Pembelajaran dan Literasi Satriya atau "Kompilasi Satriya" . Agenda pertemuan perdana insyaallah akan dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2021. 

Dalam agenda pertama akan diisi analisis kebutuhan belajar anggota melalui kegiatan rembug diskusi atau survei sederhana, karena segala kegiatan belajar komunitas haruslah berdasarkan kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi, untuk kemudian dicari solusinya bersama-sama. Semakin kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan, semakin berkembang dan bermanfaat Komunitas Praktisinya kelak. Kegiatan ini menggunakan format lembar analisis kebutuhan atau dapat dengan mengisi kolom coment pada blog yang tersedia.


Lembar analisis kebutuhan belajar:

Nama                                                    : ………………………………

Guru kelas/guru mata pelajaran           : ………………………………

Hari, tanggal                                        : ………………………………

 

Mohon bapak dan ibu berkenan menuliskan permasalahan pembelajaran/kebutuhan belajar yang menurut Bapak dan Ibu penting dan mendesak untuk diselesaikan dan menjadi agenda kegiatan komunitas praktisi berikutnya, dalam lembar yang disediakan.

No.

Permasalahan

Kebutuhan Belajar

1.

 

 

2.

 

  

3.

 

 

4.

 

  

5.

 

 

Saran dan masuakan :

…………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………


Kegiatan juga akan diisi dengan arahan dan sambutan Kepala Sekolah, dan pengantar integrasi literasi dalam pembelajaran, dan.pembentukan kepengurusan komunitas. Adapun rancangan kepengurusan komunitas praktisi adalah sebagai berikut.

Penanggung jawab                          : Jamin, S.Pd.

Ketua                                               : Wiwit Murih Widodo, S.Pd.

Sekretaris                                         : Ananda Rizal

Bendahara                                        : 1. Agus Sujanti, S.Pd.SD.

                                                           2. Desi Indriyanti

Koordinator kegiatan                       : 1. Yunita Dwi L., S.Pd.

                                                           2. Surtiningsih, A.Ma.

Humas dan Kerjasama                     : 1. Anastasia Rini W., S.Pd.

                                                           2. Sumiyati, S.Ag.

Reporter, dan Dokumentasi             : 1. Nur Astuti, S.Pd.

                                                           2. Fina Herawati, S.Pd.

Perlengkapan                                   : Turiman

 

Setelah ada hasil analisis kebutuhan belajar, maka akan disusun rencana kegiatan belajar pada pertemuan berikutnya dan narasumber yang sesuai.


Monday, 27 September 2021

Memfasilitasi Siswa Belajar Kelompok

 Belajar kelompok merupakan salah satu kegiatan untuk menanamkan nilai kolaboratif dalam diri siswa. Nilai kolaboratif ini sangat penting dimiliki oleh siswa agar dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Nilai kolaboratif merupakan ciri dari profil gotong royong. Melalui kegiatan belajar kelompok secara daring siswa dapat saling berbagi pemahaman ilmu, wawasan, keterampilan menyelesaikan tugas secara efektif dan tuntas. 

Dalam pembelajaran di kelas VI semester gasal tahun pelajaran 2021/2022 siswa dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok terdiri atas lima siswa. Dalam kelompok ada ketua, sekretaris, dan anggota. Tugas ketua kelompok adalah mendorong dan memastikan setiap anggota kelompoknya berpartisipasi dalam penyelesaian tugas. Tugas sekretaris adalah menuliskan dan mengirimkan hasil tugas melalui media sesuai petunjuk. Setiap anggota kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan.

Proses pemilihan ketua dan sekretaris dalam tiap kelompok nampak dinamis dan demokratis. Setelah guru memberi tugas untuk musyawarah, siswa bermusyawarah memilih kandidat ketua dan sekretaris. Siswa saling mengusulkan nama dan teman dalam satu kelompok menanggapi.. Hasil musyawarah kemudaian ditulis dan dikirimkan dalam media whatshApp grub masing-masing kelompok belajar daring kelas VI. 

Gambar 1: Screenshoot pembagian kelompok dalam grub WA

Gambar 2: Screenshoot pembagian kelompok dalam grub WA





Saturday, 18 September 2021

Kerangka Refleksi

 Refleksi dalam pembelajaran merupakan salah satu rangkaian kegiatan sangat penting. Refleksi adalah cerminan; gambaran mengenai apa yang sudah dilakukan, bagaimana perasaan, apa saja yang didapatkan, bagaimana perubahan ke depan. Untuk memudahkan membuat refleksi dapat menggunakan format berikut.


Peristiwa (Facts): peristiwa apa saja yang terjadi?

............................................................................................................... 

...............................................................................................................

...............................................................................................................

Perasaan (Feelings): apa yang muncul saat proses pembelajaran?

............................................................................................................... 

 ...............................................................................................................

 ...............................................................................................................

...............................................................................................................Pembelajaran (Findings): apa saja yang didapatkan

 

...............................................................................................................

...............................................................................................................

Perubahan (Future): Jika saya ingin membuat perubahan agar lebih baik: 

apa saja yang perlu saya pelajari lebih lanjut? apa saja strategi yang dilakukan untuk melaksanakan perubahan?

...............................................................................................................

...............................................................................................................

............................................................................................................... 

 

 

 

 

Definisi Penelitian Kuantitatif

 Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, dalam Karunia Eka Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara,2015:2)

Sunday, 12 September 2021

Definisi Penelitian

Penelitian adalah salah satu cara untuk mencari kebenaran melalui metode ilmiah, yaitu merumuskan masalah, melakukan studi literatur, yaitu studi mengenai teori atau hasil penelitian di masa lampau yang berkenaan dengan permasalahan yang dikaji, bila perlu merumuskan praduga-praduga atau hipotesis-hipotesis, mengumpulkan data, mengolah data, dan mengambil kesimpulan (Ruseffendi dalam Karunia Eka Lestari dan Mukhamad Ridwan Yudhanegara, 2015: 1)


Sumber: Karunia Eka Lestari dan Mukhamad Ridwan Yudhanegara (2015). Penelitian Pendidikan Matematika. Bandung: Refika Aditama

Thursday, 23 January 2020

KIAT SUKSES USBN

Sumber : Motivator USBN 2020

1. Beirbadah dan berdoa
2. Berbakti kepada orantua dan guru
3. Batasi penggunaan HP
4. Kurangi menonton TV
5. Belajar lebih rajin
6. One day one materi
7. Setiap mapel "beda cara"
8. Bangun pagi "serangan fajar"
9. Tutor pendampingan
10. Pendampingan oleh orangtua

Friday, 17 January 2020

Program Best Practice Sukses USBN Kelas VI

Contoh Program Best Practice Sukses USBN  Kelas VI


1.    Target nilai USBN-Ditulis-Langkah mencapainya-Komunikasi dengan Orangtua-ditempel di kelas
2.    Belajar Kelompok siswa di rumah-Home Visit Guru/KS-dilaksanakan pada hari Jumat
3.    Jam Ke Nol (doa-doa, sholat dhuha, surat-surat pendek)
4.    Parenting Wali Murid kelas VI
5.    Pembagian siswa dalam kelompok di Kelas-A-B-C berdasarkan tingkat pencapaian nilai
6.    Tahajud Call melalui pesan whatshap oleh guru-orangtua-siswa
7.    Doa Bersama awal tahun dan akhir tahun
8.    Pertemuan orangtua setiap bulan
9.    Refreshing sebelum Ujian 
10. Kunjungan sosial ke panti asuhan/yatim piatu untuk bhakti sosial dan minta Doa
11. Reward berkala
12. Target perkelas I-s.d.-VI
13. Remidial super tiga anak satu guru
14. Les dibagi Kelompok A-B-C (Soal Dibagi Kelompok Liat Analisis)
15. Jangan sampai Anak Putus Asa dengan hasil try out
16. Indikator USBN sebagian diberikan di Kelas IV dan V
17. Portofolio nilai empat terendah dipajang di kelas
18. Pemberian Motivasi kepada siswa kelas VI oleh motivator


Sumber:
Workshop best practice 2020.

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...