Hari ini saya mencoba membaca tentang teori belajar neurosains. Neurosains merupakan sebuah rujukan
yang dipakai oleh para pakar pendidikan Islam.
Neurosains menemukan bahwa seluruh potensi
anak didik bertumpu pada otaknya (Salamah Eka Susanti, 2021). Sangat menarik, artikel yang ditulis Salamah Eka Susanti tentang Pembelajaran Anak Usia Dini Dalam Kajian Neurosains dengan tujuan to describe the importance of neuroscience approach for
early childhood in the learning process. Di dalam artikel dituliskan bahwa Sejak dipublikasikannya teori tentang
neurosains, khususnya fakta mengenai
perkembangan otak anak, terlebih lagi temuan
di bidang neurosains telah mengantarkan para psikolog sampai pada sebuah kesimpulan bahwa usia dini
merupakan usia emas (golden ages).
Membaca artikel ini mengingatkan saya pada sebuah keinginan yang dulu pernah saya usahakan namun belum berhasil, yaitu mendirikan lembaga pendidikan PAUD-TK. Ada beberapa langkah yang sudah saya tempuh dalam mewujudkan keinginan tersebut, di antaranya bertukar pikiran dengan rekan, berkonsultasi dengan Kepala RA, Guru Ra, dan meminta izin tempat pada Pengasuh Pondok Pesantren, berkonsultasi dengan Pamong dusun. Akan tetapi langkah tersebut belum cukup untuk mewujudkan keinginan karena kendala tempat, guru, dan pendanaan. Mungkin suatu saat keinginan itu terwujud, tentunya atas ridha Allah S.WT.
Mengapa membangun lembaga PAUD-TK penting? Hal itu setidaknya karena beberapa alasan. Alasan pertama adalah karena alasan pribadi, saya memiliki tiga anak usia PAUD-TK, dengan kesibukan bekerja yang jauh dari rumah, mendirikan PAUD-TK menjadi salah satu opsi di samping memasukkan ke PAUD-TK yang sudah ada namun jaraknya cukup jauh dari rumah, tentunya harus ada yang antar jemput. Alasan kedua adalah di Desa saya belum ada PAUD, baru ada TK dan RA, yang agak jauh jaraknya dari rumah. Alasan ketiga, banyak anak usia dini yang berada di rumah, diasuh oleh ibu-ibu yang kebanyakan ibu rumah tangga. Alasan keempat memajukan pendidikan di Desa dengan mendirikan lembaga pendidikan PAUD-TK. Alasan ke keempat adalah ingin mengintegrasikan pembelajaran sosial-emosional, fisik-motorik, moral-spiritual dipadu dengan kesehatan jasmani. Beberapa alasan lain yang relevan, namun tidak saya tuliskan.
Teori behavioristik merupakan salah satu teori yang digunakan bapak ibu guru di sekolah. Teori belajar behavioristik adalah teori belajar yang berfokus
pada perubahan perilaku murid sebagai hasil dari
proses pembelajaran. Menurut teori behavioristik, perubahan perilaku
murid disebabkan oleh adanya interaksi antara
stimulus dan respon. Stimulus tersebut berupa lingkungan
belajar murid, baik bersifat internal maupun eksternal,
sedangkan respon merupakan reaksi fisik terhadap
rangsangan atau stimulus yang diterima. Salah satu faktor yang dianggap penting
oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement) baik (positive reinforcement) maupun (negative reinforcement). Tokoh-tokoh dalam teori behavioristik adalah teori belajar koneksionisme dengan tokoh Edward Lee
Thorndike; Teori belajar classical conditioning dengan tokoh Ivan
Pavlov; dan Teori belajar descriptive behaviorism atau operant
conditioning dengan tokoh Burrhus Frederic Skinner. Penerapan dari teori behavioristik di dalam kelas lebih banyak pada guru sebagai pusat pembelajaran atau teacher centered.
Contoh ilustrasi pembelajaran menggunakan teori behavioristik adalah sebagai berikut.
Suatu hari di SD Nusantara ada Ibu Santi mengajar materi tentang jenis-jenis paragraf. Sebagai persiapan mengajar, Ibu Santi telah menyusun materi atau bahan ajar secara lengkap,
mulai dari materi sederhana sampai kompleks. Ada dua jenis paragraf yang akan diberikan sebagai materi oleh Ibu Santi, yaitu jenis paragraf narasi dan deskripsi. Saat di kelas Ibu Santi mempersiapkan siswa dengan asesmen diagnostik kognitif. Asesmen diagnostik digunakan untuk mengetahui dan mengukur kemampuan awal siswa untuk masuk dalam materi baru. Pertanyaan yang digunakan sebagai asesmen adalah menanyakan pemahaman prasyarat siswa yaitu bagaimana pemahaman mereka tentang kalimat utama dan kalimat penjelas. Pertanyaan kedua adalah apa pengalaman mereka dalam membaca jenis paragraf dalam buku cerita.
Ibu Santi menjelaskan materi tentang jenis paragraf narasi dan deskripsi, siswa menyimak penjelasan. Ibu Santi memberikan contoh-contoh paragraf narasi dan dsekripsi, siswa menyimak dan memhami. Ibu Santi memberi tugas untuk mengidentifikasi jenis-jenis paragraf dari bahan bacaan yang disajikan. Ibu Santi memberikan latihan soal tentang paragraf narasi dan deskripsi. Ibu Santi memberikan banyak pengulangan pembelajaran
berupa latihan agar terbentuk pemahaman yang kuat tentang jenis paragraf narasi dan deskripsi pada siswa.
Dina
Senin tekan Setu iki para siswa kelas siji tekan enem ing SD Negeri
Pendowoharjo, Sleman nglaksanakaké Penilaian Tengah Semester (PTS). PTS
dilaksanakaké kanthi cara tès tertulis. Déne
soalé digawé déning tim saka Koordinator Wilayah Kapanéwon
Sleman. Wektuné PTS wiwit tabuh pukul setengah wolu nganthi tabuh pukul sewelas.
Sakdurunge lan sakwisé rampung nggarap soal, para siswa dedonga bareng-bareng dipimpin
ketua kelas. Bapak utawa ibu guru bagekaké soal lan lembar wangsulan. Para siswa
nggarap soal kanthi tertib lan patitis. Sakwisé rampung, soal lan lembar wangsulan banjur
dikumpulaké maneh datheng bapak utawa ibu guru. PTS kaajab bisa kanggo
ngukur capaian kompetensi para siswa lan asilé
kanggo bahan ningkatakékompetensi para siswa
kasebut.
Gambar ilustrasi para siswa nglaksanakake PTS
Sumber: dokumen pribadi
From Monday to Saturday, the students
from grades one to six at SD Negeri Pendowoharjo, Sleman will conduct the
Mid-Semester Assessment (PTS). PTS is conducted through a written test. The
question was made by the team from the Regional Coordinator of Kapanewon
Sleman. PTS time is from half past eight to eleven o'clock. Before and after
they finish working on the questions, the students pray together led by the
class leader. The teacher distributes questions and answer sheets. The students
work on the questions in an orderly and patient manner. After finishing, the
questions and answer sheets are collected again by the teacher. PTS is expected
to measure the achievement of the competence of the students and the results
for the materials to improve the competence of the students.
Sekolah adalah ‘institusi moral’ yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah.
Dalam pengambilan suatu keputusan, tidak jarang kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.
Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid. Diane Gossen (1998) berpendapat bahwa bila kita ingin menumbuhkan motivasi instrinsik dari dalam diri seseorang maka tumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan universal.
Beberapa nilai kebajikan universal adalah:
Sembilan Pilar Karakter Indonesian Heritage Foundation (IHF):
Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA
Kemandirian dan Tanggung jawab
Kejujuran (Amanah), Diplomatis
Hormat dan Santun
Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong
Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras
Kepemimpinan dan Keadilan
Baik dan Rendah Hati
Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan
Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema
etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan
sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa
juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau
kelompok kecil melawan kelompok besar.
“Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat
berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar.
Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih
besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi
juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga
Anda.
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak
mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan
perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian
karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi
dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan
berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur
menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan
pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih
antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang
akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan seharihari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global,
misalnya lingkungan hidup dll
ilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika.
Beberapa pertimbangan dalam pengambilan keputusan adalah:
Melakukan, demi kebaikan orang banyak.
Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri Anda.
Melakukan apa yang Anda harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Anda.
Tiga prinsip pengambilan keputusan, prinsip tersebut adalah:
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Kiranya Sebagian besar dari kita akan menghubungkan kata
disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan. Kata
“disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal hal itu berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi
hukuman, justru itu merupakan salah satu alternatif terakhir bahkan jika perlu tidak
digunakan sama sekali.
Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa
“dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat.
Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang
mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab
jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa
lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di
dalam suasana yang merdeka.
Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam
konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka,
syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud
adalah disiplin diri, yang berasal dari motivasi internal dalam diri murid. Jika belum memiliki
motivasi internal, maka murid memerlukan pihak lain dalam hal ini guru untuk mendisiplinkan murid atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri murid sendiri.
Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menumbuh kembangkan anak-anak yang memiliki
disiplin diri dari motivasi internal sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai
luhur atau mulia.
Para pendidik di SD Negeri Pendowoharjo, Sleman berusaha untuk
menanamkan disiplin positif kepada murid-murid. Disiplin positif ini tentunya sangat dibutuhkan oleh murid. Terlebih lagi dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah. Disiplin positif dibutuhkan agar anak-anak tetap sehat dan selamat, sehingga tidak ada klaster baru Covid-19. Pembelajaran akan diizinkan dan terus berlangsung jika murid-murid tetap sehat dan selamat. Hal itu tentunya menjadi harapan kita semua. Murid-murid menerapkan protokol kesehatan dengan motivasi internal agar mereka sehat dan selamat dan dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik.
Gambar 1. antre cuci tangan
Gambar 2. Mencuci tangan dengan sabun di air mengalir
Gambar 3. Penerapan prokes dengan pengecekan suhu
Gambar 4. Berbaris sebelum masuk kelas
Gambar 5: Siswa tertib masuk kelas satu persatu saat sirkulasi pembelajaran dengan memerhatikan jaga jarak
Gambar 6. Menciptakan suasana kondusif di kelas sesuai keyakinan kelas
Gambar 7: Siswa tetap tertib meski dalam kelompok belajar tetap menjaga protokol kesehatan
Seorang murid yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Budaya Positif
Budaya positif perlu diciptakan di kelas dan sekolah. Budaya positif memerlukan disiplin diri dari warga kelas dan sekolah. Budaya positif dapat diwujudkan di antaranya dengan pembentukan keyakinan kelas, posisi kontrol guru yang positif, dan menerapkan segitiga restitusi. Melalui budaya positif terwujud pembelajaran yang kondusif, berkualitas, dan berpihak pada murid. Banyak contoh budaya yang bisa diterapkan oleh murid-murid baik di rumah maupun sekolah. Di sekolah bisa dengan menerapkan 3S TOMAT (senyum salam sapa tolong maaf dan terima kasih). DI rumah murid-murid bisa literasi dengan membaca buku atau dari media yang disiapkan guru sesuai tema.
Gambar 9: Siswa di rumah melaksanakan literasi membaca dengan memanfaatkan media teknologi informasi
Tujuan dari disiplin positif murid adalah disiplin diri dengan menanamkan motivasi pada murid-murid, yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Murid-murid akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang murid-murid hargai.
Pembentukan Keyakinan Kelas:
Untuk membangun budaya positif dapat dilakukan dengan membuat keyakinan kelas.
- Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.
- Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
- Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
- Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
- Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.
- Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.
- Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.
Gambar 10: Kesepakatan kelas yang dibuat mencerminkan "SATRIYA" Sehat, Aman, Tertib, Indah, dan Jaya dibuat bersama oleh guru dan murid. Identifikasi bersama tugas murid dan bukan tugas murid
Kebutuhan Dasar
Dalam menciptakan budaya positif guru kiranya perlu memahami kebutuhan dasar murid. Seluruh tindakan murid memiliki tujuan tertentu. Semua yang dlakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang murid inginkan. Ketika murid mendapatkan apa yang mereka inginkan, sebetulnya saat itu mereka sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar murid, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Posisi Kontrol
Ada 5 posisi kontrol yang dapat diterapkan seorang guru, dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol guna menciptakan budaya positif. Posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer. Posisi kontrol yang seyogianya diterapkan adalah teman, pemantau, dan manajer.
Segitiga Restitusi
Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.
Proses ini meliputi tiga tahap dan setiap tahapnya berdasarkan pada prinsip penting dari Teori Kontrol, yaitu Langkah Teori Kontrol 1 Menstabilkan Identitas Stabilize the Identity Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan 2 Validasi Tindakan yang Salah Validate the Misbehaviour Semua perilaku memiliki alasan 3 Menanyakan Keyakinan Seek the Belief Kita semua memiliki motivasi internal.
Video gambaran budaya positif
Refleksi:
Disiplin positif yang berasal dari motivasi internal lebih kuat dibanding disiplin dari motivasi eksternal, untuk itu kiranya perlu ditananmkan sejak dini.
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki
kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka,
dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)
Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk
mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang
seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus
memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan
memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada
bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari
ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang
menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita
telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki
motivasi intrinsik.
Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan
cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang
apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka
dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban,
tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai
dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menangmenang.
Istilah Komunitas Praktisi diperkenalkan oleh Etienne
Wenger dalam bukunya Community of Practice. Ia
mengatakan bahwa Komuni tas Prakt i s i adalah
“Sekelompok individu yang memiliki semangat dan
kegelisahan yang sama tentang praktik yang mereka
lakukan dan ingin melakukannya dengan lebih baik
dengan berinteraksi secara rutin” (Wenger, 2012).
Komunitas praktisi dibentuk dengan tujuan:
1. Mengedukasi anggota dengan mengumpulkan
dan berbagi informasi yang berkaitan dengan
masalah dan pertanyaan tentang praktik
pengajaran dan pembelajaran
2. Memberi dukungan pada anggota melalui
interaksi dan kolaborasi sesama anggota
3. Mendampingi anggota untuk memulai dan
mempertahankan pembelajaran mereka
4. Mendorong anggota untuk menyebarkan
capaian anggota melalui diskusi dan berbagi
5. Mengintegrasikan pembelajaran yang
didapatkan dengan pekerjaan sehari-hari
Komunitas praktisi memberikan wadah bagi para guru
untuk belajar dan berpartisipasi dalam pengembangan diri
mereka. Interaksi dan dialog antara anggota komunitas
dapat berupa berbagi kekhawatiran, masalah, dan praktik
baik untuk direfleksikan bersama-sama. Dengan begitu,
anggota komunitas dapat saling dukung untuk mandiri dan
berdaya memenuhi kebutuhan profesionalismenya. Maka,
penting bagi semua anggota komunitas untuk
berkontribusi dan memanfaatkan semua aktivitas di dalam
komunitas.
Ada tiga tahapan pengembangan komunitas praktisi.
1. Tahap merintis
2. Tahap menumbuhkan
3. Tahap merawat berkelanjutan
Pada Sabtu, 9 Oktober 2021, Calon Guru Penggerak (CGP) melaksanakan tugas Pendidikan dan Pelatihan Calon Guru Penggerak yang diikuti untuk membuat komunitas praktisi di sekolah. Pembentukan komunitas praktisi bertujuan di antaranya untuk bersama-sama menemukan solusi permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran sehingga kualitas pembelajaran meningkat, mengembangkan profesionalitas guru, meningkatkan praktik baik pembelajaran dengan integrasi literasi. Komunitas praktisi beranggotakan guru kelas I s.d. VI dan guru mata pelajaran. Adapun langkah yang ditempuh CGP dalam membangun komunitas praktisi di antaranya sebagai berikut.
1. Berkonsultasi dengan pimpinan untuk memperoleh dukungan dan saran yang membangun
Gambar 1. Konsultasi kepada pimpinan untuk pembentukan komunitas praktisi
2. Berdiskusi dengan teman sejawat
Gambar 2. Diskusi dengan teman sejawat untuk pembentukan komunitas praktisi
3. Rapat koordinasi sekolah
Gambar 3. Pembahasan Komunitas Praktisi dalam rapat koordinasi sekolah
Komunitas praktisi yang dibentuk diberi nama Komunitas Integrasi Pembelajaran dan Literasi Satriya atau "Kompilasi Satriya" . Agenda pertemuan perdana insyaallah akan dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2021.
Dalam agenda pertama akan diisi analisis kebutuhan belajar anggota melalui kegiatan rembug diskusi atau survei sederhana, karena segala
kegiatan belajar komunitas haruslah berdasarkan
kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi, untuk
kemudian dicari solusinya bersama-sama. Semakin
kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan, semakin
berkembang dan bermanfaat Komunitas Praktisinya kelak. Kegiatan ini menggunakan format lembar analisis kebutuhan atau dapat dengan mengisi kolom coment pada blog yang tersedia.
Lembar analisis kebutuhan belajar:
Nama : ………………………………
Guru kelas/guru mata pelajaran : ………………………………
Hari, tanggal : ………………………………
Mohon bapak dan
ibu berkenan menuliskan permasalahan pembelajaran/kebutuhan belajar yang
menurut Bapak dan Ibu penting dan mendesak untuk diselesaikan dan menjadi
agenda kegiatan komunitas praktisi berikutnya, dalam lembar yang disediakan.
No.
Permasalahan
Kebutuhan Belajar
1.
2.
3.
4.
5.
Saran
dan masuakan :
…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………
Kegiatan juga akan diisi dengan arahan dan sambutan Kepala Sekolah, dan pengantar integrasi literasi dalam pembelajaran, dan.pembentukan kepengurusan komunitas. Adapun rancangan kepengurusan komunitas praktisi adalah sebagai berikut.
Penanggung jawab : Jamin,
S.Pd.
Ketua : Wiwit Murih Widodo, S.Pd.
Sekretaris : Ananda Rizal
Bendahara : 1. Agus
Sujanti, S.Pd.SD.
2. Desi
Indriyanti
Koordinator kegiatan : 1. Yunita
Dwi L., S.Pd.
2. Surtiningsih, A.Ma.
Humas dan Kerjasama : 1.
Anastasia Rini W., S.Pd.
2. Sumiyati, S.Ag.
Reporter, dan Dokumentasi : 1. Nur Astuti, S.Pd.
2. Fina Herawati, S.Pd.
Perlengkapan : Turiman
Setelah ada hasil analisis kebutuhan belajar, maka akan disusun rencana kegiatan belajar pada pertemuan berikutnya dan narasumber yang sesuai.
Belajar kelompok merupakan salah satu kegiatan untuk menanamkan nilai kolaboratif dalam diri siswa. Nilai kolaboratif ini sangat penting dimiliki oleh siswa agar dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Nilai kolaboratif merupakan ciri dari profil gotong royong. Melalui kegiatan belajar kelompok secara daring siswa dapat saling berbagi pemahaman ilmu, wawasan, keterampilan menyelesaikan tugas secara efektif dan tuntas.
Dalam pembelajaran di kelas VI semester gasal tahun pelajaran 2021/2022 siswa dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok terdiri atas lima siswa. Dalam kelompok ada ketua, sekretaris, dan anggota. Tugas ketua kelompok adalah mendorong dan memastikan setiap anggota kelompoknya berpartisipasi dalam penyelesaian tugas. Tugas sekretaris adalah menuliskan dan mengirimkan hasil tugas melalui media sesuai petunjuk. Setiap anggota kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan.
Proses pemilihan ketua dan sekretaris dalam tiap kelompok nampak dinamis dan demokratis. Setelah guru memberi tugas untuk musyawarah, siswa bermusyawarah memilih kandidat ketua dan sekretaris. Siswa saling mengusulkan nama dan teman dalam satu kelompok menanggapi.. Hasil musyawarah kemudaian ditulis dan dikirimkan dalam media whatshApp grub masing-masing kelompok belajar daring kelas VI.
Gambar 1: Screenshoot pembagian kelompok dalam grub WA
Gambar 2: Screenshoot pembagian kelompok dalam grub WA
Refleksi dalam pembelajaran merupakan salah satu rangkaian kegiatan sangat penting. Refleksi adalah cerminan; gambaran mengenai apa yang sudah dilakukan, bagaimana perasaan, apa saja yang didapatkan, bagaimana perubahan ke depan. Untuk memudahkan membuat refleksi dapat menggunakan format berikut.
Peristiwa (Facts): peristiwa apa saja yang
terjadi?
...............................................................................................................Pembelajaran (Findings): apa saja yang
didapatkan
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, dalam Karunia Eka Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara,2015:2)
Penelitian adalah salah satu cara untuk mencari kebenaran melalui metode ilmiah, yaitu merumuskan masalah, melakukan studi literatur, yaitu studi mengenai teori atau hasil penelitian di masa lampau yang berkenaan dengan permasalahan yang dikaji, bila perlu merumuskan praduga-praduga atau hipotesis-hipotesis, mengumpulkan data, mengolah data, dan mengambil kesimpulan (Ruseffendi dalam Karunia Eka Lestari dan Mukhamad Ridwan Yudhanegara, 2015: 1)
Sumber: Karunia Eka Lestari dan Mukhamad Ridwan Yudhanegara (2015). Penelitian Pendidikan Matematika. Bandung: Refika Aditama
1. Beirbadah dan berdoa
2. Berbakti kepada orantua dan guru
3. Batasi penggunaan HP
4. Kurangi menonton TV
5. Belajar lebih rajin
6. One day one materi
7. Setiap mapel "beda cara"
8. Bangun pagi "serangan fajar"
9. Tutor pendampingan
10. Pendampingan oleh orangtua