Tuesday, 26 April 2022

PGP-Angkatan 3-Kabupaten Sleman-Wiwit Murih Widodo- 3.3. - Aksi Nyata

Pembuatan Papan Literasi


"PAPAN LITERASI"

 

Konsep pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara yang mendasari adalah maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat). ‘suara’, pilihan’, dan ‘kepemilikan’ akan dipromosikan dan didorong melalui ruang dialog murid di kelas membahas mimpi dan dampaknya dalam program papan literasi, musyawarah kerja bersama: murid, guru menjabarkan ide/cara konkret membahas 'pertanyaan' dan apa yang dapat mendukung peningkatan kegemaran membaca dan interaksi antar teman yang heterogen, seperti: 1. Pengelolaan alur komunikasi dan penentuan keputusan. 2. Pembuatan papan literasi bersama murid. 3. Pengelolaan buku bacaan dan rotasinya sebagai sumber papan literasi.

Konteks program SD Negeri Pendowoharjo adalah sekolah yang bergerak memberikan prioritas salah satunya pada peningkatan  literasi murid. Selaras dengan program prioritas sekolah, Calon Guru Penggerak (CGP) membuat program aksi nyata modul 3.3. Program yang berdampak pada murid berupa “Papan Literasi”.

Menurut Najelaa Shihab (2019:1), literasi adalah salah satu istilah dalam pendidikan yang sering dibicarakan berbagai pemangku kepentingan. Pengambil kebijakan, penggerak komunitas, dan guru sepakat bahwa literasi penting untuk diimplementasikan. 

Kebutuhan di lapangan, atau minat terhadap program ini adalah survei sederhana murid kelas VI membutuhkan program yang mendukung lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya. Melalui peningkatan literasi diharapkan dapat mendukung pencapaian tersebut.

Aksi nyata modul 3.3. pembuatan “Papan Literasi” oleh CGP dilaksanakan terintegrasi dengan program kokurikuler literasi dengan alokasi waktu 15 menit setiap awal pembelajaran. Adapun pembuatan “Papan Literasi” dilakukan dalam tiga hari seminggu. “Papan Literasi” dibuat oleh tim kecil terdiri dari dua, tiga, atau empat murid setiap tim. Aksi nyata dilakukan untuk meningkatkan kegemaran membaca, Meningkatkan interaksi antar teman yang heterogen, Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya, Lingkungan berkomitmen untuk menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya sendiri, Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana. Menurut Najeela Shihab (2019:2), literasi bermanfaat meliputi berbagai aspek perkembangan bukan hanya kogniti, namun juga sosial, bahasa, dan emosi. Hal itu selaras dengan tujuan pembuatan papan literasi.

Dalam kegiatan aksi nyata CGP berusaha melaksanakan sesuai rancangan yang telah diunggah dalam LMS.

Aksinyata diawali dengan diskusi sederhana kepala sekolah/rekan sejawat program literasi dilanjutkan dialog sederhana murid mengetahui interaksi pertemanan yang menarik (Waktu : 2 hari (25-26/03/2022)). Dalam dialog sederhana tersebut CGP mendapat masukan tentang program yang berdampak pada murid dan tujuan pelaksanaan aksi nyata untuk mendukung ketercapaian belajar murid kelas VI.

Survei kegemaran membaca murid dengan kegiatan curah pendapat sederhana untuk mengetahui program literasi membaca yang sudah berjalan, bagaimana interaksi pertemanan heterogen di kelas. Dalam interaksi pertemanan murid cenderung nyaman dengan teman yang sudah akrab. Buku untuk bahan literasi lebih ditekankan untuk mendukun materi pembelajaran karena sudah mendekati ujian sekolah.  Bertanya pada orangtua tentang kegemaran membaca murid di rumah dilaksanakan dalam waktu : 1 minggu (28/03-1/04/2022)

Kegiatan Ruang dialog guru murid dilaksanakan (Waktu : 2 hari (4-5/04/2022). Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendapatkan aspirasi (harapan/mimpi) dari murid tentang program yang dapat meningkatkan kegemaran membaca sekaligus menguatkan interaksi pertemanan yang heterogen di kelas. Dalam kegiatan ini Penanggung jawab adalah CGP. Dalam ruang dialog guru dan murid, tercetus harapan bahwa papan literasi dapat bermanfaat bagi yang mebuat, dan pengguna papan literasi, atau adik kelas. Bahkan ada harapan jika memang sekolah lain merasa tertarik dan merasa bermanfaat dapat memanfaatkannya, karena pembuatannya yang mudah, sederhana, dan tidak memerlukan biaya tinggi. Hanya saja memang memerlukan ide atau pemikiran tentang konsep atau materi yang dituangkan dalam papan literasi. Konsep atau materi dapat diambil dari berbagai buku bacaan baik fiksi maupun nonfiksi.

Kegiatan Musyawarah kerja (Waktu : 4 hari (6-9/04/2022). Dalam kegiatan musyawarah kerja diharapkan adanya komitmen murid dalam program sesuai jadwal, menentukan cara terbaik, menarik, dan menyenangkan pelaksanaan program papan literasi. Murid mengorganisasi penentuan pembuatan papan literasi. Dalam kegiatan ini terbentuk kelompok kecil berotasi secara berkala mengelola dukungan, meningkatkan kegemaran membaca murid dan interaksi pertemanan yang heterogen (termasuk pintar, sedang, kurang)

Tim kecil, membentuk papan literasi waktu (11—16 /04/2022)

•          Waktu : 25/03/2022 – 16/04/2022

•          Sasaran : Murid kelas VI (usia 11-13 tahun)

•          Tempat : Ruang kelas VI SDN Pendowoharjo

•          Durasi kegiatan : 15 menit/hari

Mitra : guru, Murid, dan orangtua


Contoh kegiatan pembuatan papan literasi adalah sebagai berikut.


Gambar Proses Pembuatan Papan Literasi Oleh Tim kecil

 

Gambar Proses penulisan kartu kuis dalam Papan Literasi



Gambar Proses penulisan kartu kuis dalam Papan Literasi

 

Kapasitas kelas/sekolah dalam pelaksanaan program pembuatan papan literasi adalah sebagai berikut,

  • Sekolah memiliki program prioritas salah satunya peningkatan literasi
  • Murid senang belajar
  • Guru senang belajar
  • Tersedia buku-buku fiksi dan non fiksi penunjang program
  • Orangtua senang anak gemar membaca
  • Tersedia alat tulis kantor yang memadai
  • Bahan pembuatan papan mudah didapat, terjangkau, dan sederhana

Evaluasi dilaksanakan secara berkala setelah didapat hasil pelaksanaan papan literasi dari tim kecil, evaluasi melibatkan stake holder dan murid, pemberian umpan balik, perbaikan dan peningkatan kegiatan selanjutnya untuk hasil yang lebih bagus mealui proses komputerisasi. Alur evaluasi dilakukan seperti gambaran dalam diagram berikut.

 


tantangan

Beberapa tantangan dan solusi, yaitu:

  • Kelas Vi mendekati ujian sekolah lebih focus ke ujian sekolah
  • Solusi bahan bacaan, tujuan, dan tema lebih diarahkan yang menunjang akademik sebagaiman tujuan untuk lingkungan melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik dan non akademik
  • Pelaksanaan juga masuk di bulan puasa
  • Solusi penggunaan waktu seefektif mungkin dan kegiatan melibatkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid sehingga anak tetap semangat dan berkomitmen untuk menyelesaikan tujuan
  • Tantangan dan solusi mungkin berjalan seiring dan membuka kesempatan bagi murid untuk menawarkan solusi dan menggunakannya untuk pemecahan masalah dalam rangka mewujudkan kepemimpinan murid secara aktif

 

• Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Contoh hasil aksi nyata papan literasi adalah sebagai berikut.

 

Gambar Papan Literasi dan Kartu Kuis Ungkapan  masih tulis tangan


Gambar Papan Literasi, Kartu Kuis, dan Gacuk yang telah dikomputerisasi.

Keterangan 1. Kartu Kuis, 2. Gacuk, 3. Papan Literasi  


Gambar Papan literasi dan kartu kuis pangkat dua, akar pangkat dua, pangkat tiga, dan akar pangkat tiga tulis tangan

 

 Gambar Papan Literasi dan kartu kuis Gangguan Organ dan Sistem Organ Tulisan Tangan


Gambar Papan Literasi dan kartu kuis Gangguan Organ dan Sistem Organ yang sudah dikomputerisasi


Papan literasi yang sudah dibuat, selanjutnya dimanfaatkan dalam kegiatan belajar sambil bermain. Hal tersebut membuat anak senang, bisa belajar sambil bermain. 

Gambar Murid menggunakan handsnitser, dan menjaga jarak saat bermain ( menerapkan protokol kesehatan)


 Gambar Murid berdoa sebelum dan sesudah bermain


Gambar Murid hompimpa untuk menentukan pemain atau juri secara bergantian

 

Gambar Murid bermain sambil belajar menggunakan Papan Literasi ungkapan

 

Dalam bermain menggunakan papan literasi, siswa mengikuti aturan yang dicantumkan di papan literasi. Di papan literasi dicantumkan tujuan pembelajaran dan aturan permainan. Contoh aturan permainan dalam papan literasi adalah sebagai berikut.

TUJUAN PERMAINAN

Murid dapat menyebutkan ungkapan dengan benar.

ATURAN PERMAINAN:

Dimainkan dua/tiga anak (dua pemain, satu juri)

1.    Ambil gacuk (beda warna tiap pemain),  letakkan dulu di start

2.    Acak kartu

3.    Ambil kartu kuis oleh pemain satu (pingsut), baca oleh Juri

4.    Letakkan gacuk di ungkapan yang sesuai dengan kartu kuis (juri menentukan benar/salah, jika salah tetap di start)

5.    Ambil kartu kuis oleh pemain dua, baca oleh Juri/pemain

6.    Letakkan gacuk di ungkapan yang sesuai dengan kartu kuis (juri menentukan benar/salah, jika salah tetap di start), lakukan secara kontinu hingga gacuk sampai finish. Gacuk akan bergerak maju jika benar dalam meletakkan gacuk.

7.    Jika pemain mengambil kartu yang sama maka gacuk tetap, kartu dikembalikan dan ganti ke pemain berikutnya.

8.    Pemenang adalah pemain yang sampai finish terlebih dahulu.

9.    Permainan dapat dikreasi dan diulang seperti turnamen

Berikut cuplikan video pembuatan papan literasi, penggunaan dalam belajar sambil bermain, dan refleksi.



Perasaan setelah melaksanakan aksi nyata alhamdulillah guru dan murid merasa senang, aksi nyata telah dapat melibatkan partisipasi aktif murid, kegiatan dapat memberikan ruang kreasi bagi murid yang tergabung dalam tim kecil, mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid sehingga terwujud papan literasi berupa papan permainan atau game board laiknya papan monopoli yang dimodfikasi. Papan literasi juga memfasilitasi pertemanan yang heterogen di mana murid dapat bertukar tim kecil, atau saling bertukar papan literasi dalam permainan.

Pembelajaran (Finding) yang didapat dari pelaksanaan keseluruhan aksi nyata baik dari kegagalan maupun keberhasilan, penerapan ke depan (Future), dan rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang adalah materi papan literasi lebih variasi dan diperkaya tidak hanya berkisar pada materi akademik yang non fiksi namun juga dari materi sumber belajar fiksi. Papan literasi juga dapat menambah kegemaran membaca murid.

Papan literasi dapat digunakan adik kelas atau murid di sekolah lain, sehingga dituliskan nama pembuat karya, foto, dan tanda tangan serta tahun angkatan sebgai bentuk apresiasi kepada ide dan kerja tim yang membuat. Agar papan literasi lebih awet, papan literasi juga dilaminasi.

Hal tersebut tentunya agar semakin menambah pengetahuan dan wawasan murid, pengguna papan literasi antar teman, adik kelas, maupun murid di sekolah lain yang merasa tertarik dan berkeinginan beroleh manfaat dari papan literasi, belajar sambil bermain. Salam sehat dan bahagia.

 


Friday, 1 April 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2.

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL  3.2.

  • Pada sesi pembelajaran kali ini, Anda diberikan tantangan untuk membuat kesimpulan dan juga koneksi antara semua materi yang telah diberikan dalam modul ini dengan materi lainnya selama mengikut proses Pelatihan Guru Penggerak.

 

sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah: murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, orang tua, masyarakat sekitar sekolah, Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.  Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. 

Dalam mengatasi tantangan pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi permasalahan perkotaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih menekankan pada kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas, Kretzmann dan McKnight menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan pedesaan .

Model tujuh aset utama atau disebut sebagai modal utama, yaitu: modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal finansial, modal politik, modal agama dan modal budaya yang mana ke 7 aset terssebut saling berkaitan.

Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya dilaksanakan dengan berpijak pada filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara dimana modal utama yang dimiliki oleh sekolah itu dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk murid agar mencapai tujuan pendidikan, yaitu bahagia dan selamat.

  • Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.  

Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah memimpin warga sekolah dalam pengelolaan tujuh modal utama yang dimiliki sekolah guna mencapai visi misi sekolah. Pengetahuan dan pemahaman dapat diimplementasikan mulai dari sederha dalam pengelolaan sumber daya yang ada di kelas, pro aktid dan berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sumber daya sekolah dan masyarakat di sekitar sekolah untuk kemajuan pendidikan para siswa.

  • Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungannya pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.  

Pengelolaan sumber daya yang baik akan menunjang dalam membangun sekolah sebagai sebuah ekosistem yang di dalamnya siswa mendapat pembelajaran yang berkualitas berpusat pada siswa. Pembelajaran berkualitas dibutuhkan oleh siswa untuk tumbuh dan berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zaman agar dapat bahagia dan sejahtera.

Misalnya: Pengelolaan modal fisik perpustakaan untuk mendukung peningkatan literasi membca siswa. Siswa yang memiliki kemampuan literasi membca yang bagus diharapkan dapat mencapai prestasi yang bagus, selain itu wawasannya akan berkembang dan berguna dalam kehidupan keseharaian siswa baik di kelas, sekolah, maupun di rumah.Pengelolaan modal agama dan budaya dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas pembelajaran dengan pengintegrasian pendidikan berbasis budaya. Hal itu kiranya bagus untuk penanaman budi pekerti yang baik bagi siswa sesuai filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam modul satu.

  • Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan materi lain yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak.

Materi pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya berkaitan dengan materi-materi sebelumnya dimana dalam materi sebelumnya sebagai dasar pijakan dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki sekolah untuk sebesar-besarnya dimanfaatkan dan dikelola dengan baik guna mengantarkan siswa mencapai tujuan pendidikan sesuai Ki Hajar Dewantara yaitu bahagia dan selamat.

Misalnya untuk pengelolaan modal sosial erat kaitannya dengan modul nilai dan peran guru penggerak, pendidikan sosial dan emosional. Guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan dapat mengelola modal sosial dengan baik, dalam mengoptimalkan modal sosial, guru penggerak perlu menguasai pendidikan sosial dan emosional seperti kerjasama dengan rekan sejawat.

  • Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti pelatihan terkait modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum mengikuti pelatihan modul ini saya lebih sering menggunakan pendekatan berbasis masalah. Setelah mengikuti pelatihan modul ini dapat melihat bahwa Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai sekolah. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh sekolah. Dengan demikian pendekatan ini melihat sekolah dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna untuk menciptakan warga sekolah yang produktif dalam mencapai visi misi sekolah.

 

 


 

Optimalisasi Perpustakaan:

Program Gemar Membaca di Perpustakaan untuk Peningkatan Literasi Membaca

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

B-uat pertanyaan (Define)

●       Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;

●       Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

 Bagaimana siswa gemar membaca di perpustakaan?

Diskusi dengan rekan sejawat agar siswa gemar membaca di perpustakaan

A-mbil pelajaran (Discover)

●       Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;

●       Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsur

Kegiatan apa saya yang sudah mendukung peningkatan literasi membaca siswa di perpustakaan?

 

Apa koleksi buku yang disukai siswa-siswa?

 

Apa saja koleksi buku pengayaan yang bagus untuk menunjang prestasi belajar?

 

Apa saja koleksi buku fiksi yang bagus untuk menunjang pendidikan karakter siswa?

 

Apa saja koleksi buku fiski/non fiksi yang dapat menunjang pendidikan budaya bagi siswa?

 

Situasi bagaimana yang selama ini telah mendukung peningkatan literasi membaca siswa?

Melakukan survei sederhana kepada siswa

Melakukan survei buku koleksi yang sudah ada

Mencari referensi  penambahan koleksi buku perpustakaan yang mendukung pendidikan karakter, budaya, dan pengayaan

G-ali mimpi (Dream)

●       Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;

●       Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

Bagaimana perasaan siswa jika literasinya meningkat?

 

Bagaimana perasaan guru jika siswa gemar membaca di perpustakaan?

 

Apa sumberdaya yang mendukung gemar membaca di perpustakaan untuk peningkatan literasi membaca siswa?

 Merancang kegiatan yang mendorong peningkatan gemar membaca di perpustakaan

J-abarkan rencana (Design)

●        Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;

●        Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

 

Berapa pengaturan waktu untuk kegiatan membaca diperpustakaan untuk peningkatan liteasi membaca siswa?

 

Apa tindakan-tindakan yang mendukung gemar membaca di perpustakaan untuk peningkatan literasi membaca siswa?

 

Bagaimana mengukur kemajuan dan melanjutkan gemar membca di perpustakaan untuk peningkatan literasi membaca siswa?

 

Apa langkah paling sederhana/langkah pertama yang bisa dilakukan?

 Berkonsultasi dengan pimpinan

 

Berkoordinasi dengan rekan sejawat

 

Membuat program kegiatan gemar membaca di perpustakaan untuk peningkatan literasi membaca

 

Membuat isntrumen pemantaun kegiatan dan peningkatan literasi membaca

 

Pelaksanaan kegiatan gemar membca di perpustakaan untuk peningkatan literasi membca siswa

 

Evaluasi kegiatan

 

Menyusun langkah perbaikan dan tindak lanjut

A-tur eksekusi (Deliver)

●       Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

●       Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

 Siapa saja yang akan saya libatkan dalam mewujudkan gemar membaca di perpustakaan untuk peningkatan literasi membaca siswa?

 

Kapan usaha peningkatan literasi membaca siswa dengan gemar membaca di perpustakaan akan dimulai?

 

Siapa yang bisa mengarahkan dan memantau peningkatan literasi membaca siswa dengan gemar membca di perpustakaan?

Melaksanakan koordinasi, sosialisasi, dan pelaksanaan program

 

Mencari solusi jika terdapat kendala

 

Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program

 

 

Thursday, 17 February 2022

Pengambilan Keputusan Sebagai pemimpin Pembelajaran_Koneksi Materi 3.1

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Filosofi Patrap Triloka Ki Hajar Dewantara adalah Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran kiranya sebagai guru memosisikan diri sebagai ing ngarsa sung tuladha. Artinya dalam membuat keputusan terkandung teladan yang baik bagi murid. Keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik dan berpihak pada murid. Ing madya mangun karsa, dapat diartikan bahwa keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran dapat membangkitkan motivasi murid. Tut wuri handayani, dapat diartikan bahwa para murid yang mengikuti keputusan dapat memberi dorongan ke arah yang lebih baik. Pengambilan keputusan tersebut diambil agar para murid dapat mencapai tujuan pendidikan, bahagia dan selamat.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Suatu keputusan diambil berdasarkan nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Nilai-nilai tersebut seperti kasih sayang, keadilan akan berpengaruh dalam pengambilan keputusan ketika terjadi dilema misalnya keadilan vs kasihan. Nilai kejujuran, percaya diri, setia, tanggung jawab yang dimiliki dapat berpengaruh dalam pengambilan keputusan ketika guru mengalami dilema kebenaran vs kesetian. Maka kiranya nilai-nilai kebaikan tersebut dirawat dan tertanam dalam diri pribadi guru dan digunakan dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Selain itu nilai-nilai ditransfer kepada murid, karena tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebajikan.

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching fokus pada belajar bukan mengajari, menuntun dengan analisis beberapa alternatif untuk selanjutnya diambil keputusan secara mandiri. Coaching dengan teknik TIRTA. Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching.  Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan pendampingan kepada murid melalui pendekatan coaching di komunitas sekolah dengan lebih mudah dan mengalir. TIRTA ( T: Tujuan; I: Identifikasi; R: Rencana aksi; TA: Tanggung jawab). Dengan coaching keputusan yang diambil diharapkan terbaik, menjawab permasalahan baik berupa dilema etika maupun bujukan moral.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Kemampuan guru dalam menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional berpengaruh dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Keputusan yang diambil secara sadar dengan pengelolaan sosial emosional diharapkan merupakan keputusan yang bertanggungjawab.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Studi kasus dapat berupa kasus dilemma etika ataupun bujukan moral. Permasalahan tersebut dianalisi menggunakan nilai-nilai apakah terkait moral atau etika. Nilai-nilai yang ada dalam kasus tersebut apakah saling bertentangan. Selanjutnya penyelesaiannya membutuhkan suatu proses yang tepat dan bijaksana. Dalam pengambilan keputusan tersebut guru dapat menggunakan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip berpikir dalam pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Dalam melakukan hal tersebut guru berdasarkan pada keseluruhan nilai-nilai yang tertanam pada diri pribadi guru, sehingga keputusan yang dibuat sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dipegang oleh guru. 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat harus dilakukan melalui analisis yang cermat. Mempertimbangkan nilai-nilai, siapa yang yang terlibat, fakta-faktanya atau latar belajang masalah, diuji legalitas, uji etika, publisitas, intuisi, tokoh panutan, pengambilan keputusan dan merefleksi hasil akhir dari keputusan yang diambil. Setelah keputusan tersebut diperoleh maka dapat dilihat dari dampak positif ataukan negatif keputusan tersebut, apakah orang-orang yang terlibat merasa nyaman dan merasa lebih baik dengan keputusan yang ada, selain itu apakah timbul suatu perasaan tidak nyaman dalam hati pengambil keputusan tersebut. Dari hal tersebut akan dapat diketahui keputusan yang diambil sudah tepat dan efektif apakah masih diperlukan evaluasi dan perbaikan.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Seorang guru kadang kala dihadapkan pada berbagai kasus dilema etika yang kadang melibatkan pihak-pihak seprti murid, rekan sejawat, dan atasan. Berbagai macam kasus atau permasalahan menuntut seorang guru untuk senantiasa belajar dan melatih keterampilan dalam mengambil sebuah keputusan. Terkadang dalam menghadapi suatu kasus dilema etika seorang guru menemui kesulitan ataupun hambatan-hambatan. Kesulitan yang terjadi bisa disebabkan oleh berbagai hal misalnya perbedaan budaya, pola pikir, lingkungan, yang berbeda.

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran tentunya berpihak pada murid. Keputusan yang berpihak pada murid mempengaruhi kemerdekaan murid-murid dalam belajar. Seorang guru melalui keputusan yang diambil berusaha memfasilitasi merdeka belajar agar murid dapat menjadi murid yang memiliki profil pelajar Pancasila.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran oleh guru seyogianya memerhatikan dampak ke depan bagi murid. Kiranya keputusan tersebut bermanfaat bagi murid, sesuai dkebutuhan belajar dalam mencapai cita-citanya.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Dari modul 3.1. ini kiranya dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan bagi seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus dilakukan dengan cermat dan memperhatikan berbagai hal. Berangkat dari filosofi patrap triloka, memerhatikan aspek sosial emosional, sesuai kebutuhan belajar, dan berbagai dampak yang ditimbulkan. Keputusan yang guru ambil harus berpihak pada murid sesuai dengan dan dapat memfasilitasi merdeka belajar. Merdeka belajar sesauai dengan tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara, agar murid bahagia dan selamat.

Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan sebuah keterampilan dalam menganalisis dan menentukan suatu penyelesaian. Keterampilan yang bisa mendukung pengambilan keputusan adalah keterampilan melakukan coaching, yaitu menggali suatu permasakahan tanpa menggurui.

Keputusan-keputusan sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan mampu menciptakan sebuah ekosistem pembelajaran yang baik didukung budaya yang positif dilingkungan sekolah sehingga murid dapat merdeka belajar dan menjadi murid yang memiliki profil pelajar Pancasila.

 

 


Tuesday, 8 February 2022

Seputar Pemimpin Pembelajaran

Sekolah adalah ‘institusi moral’  yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah.

Dalam pengambilan suatu keputusan, tidak jarang kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti.  Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.

Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid. Diane Gossen (1998) berpendapat bahwa bila kita ingin menumbuhkan motivasi instrinsik dari dalam diri seseorang maka tumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai kebajikan universal.

Beberapa nilai kebajikan universal adalah:

Sembilan Pilar Karakter Indonesian Heritage Foundation (IHF):

  • Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA
  • Kemandirian dan Tanggung jawab
  • Kejujuran (Amanah), Diplomatis
  • Hormat dan Santun
  • Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong
  • Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras
  • Kepemimpinan dan Keadilan
  • Baik dan Rendah Hati
  • Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan
Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) 
    Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Anda.
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 
    Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
    Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 
    Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan seharihari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll

ilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. 

Beberapa pertimbangan dalam pengambilan keputusan adalah:

  1. Melakukan, demi kebaikan orang banyak.
  2. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri Anda.
  3. Melakukan apa yang Anda harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Anda. 

Tiga prinsip pengambilan keputusan, prinsip tersebut adalah:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...