Friday, 30 May 2014

PENGERTIAN GURU KREATIF


PENGERTIAN GURU KREATIF
 
Oleh: Pak Do
 
Idealnya seorang guru memiliki citra yang baik dan wibawa akademik di hadapan siswa yang dibinanya, sehingga kehadirannya di sekolah dapat melaksanakan fungsi keguruan sebagaimana mestinya. Kepada guru lah siswa akan mengonsultasikan berbagai permasalahan yang dihadapi di sekolah baik sebagai siswa maupun pribadi. Beragam persoalan yang dikemukakan memerlukan pemikiran yang berbeda dan cara penyelesaian yang tepat sehingga dicapai hasil yang diharapkan. Implikasinya seorang guru harus memahami konsep kreativitas dan belajar bersikap kreatif agar dapat memandang permasalahan secara komprehensif dan merekomendasi solusi kepada siswa secara tepat.
 
A. Definisi Kreativitas
Suatu saat seorang guru dihadapkan pada sebuah tantangan atau masalah yang menuntut kreativitas berpikir dalam menyelesaikan. Guru tersebut tidak mampu menyelsaikan karena hanya berkutat pada satu jalan keluar  kemudian ada guru lain yang dapat membantunya melalui cara yang tidak terpikir olehnya. Ia mungkin berkomentar  ”Kenapa tidak terpikir sampai kesana ya ?”
Komentar seperti tadi dan mungkin disertai kekaguman juga pernah terlontar pada saat kita melihat sebuah hasil karya rekan guru, tanggapan atau ide yang disampaikan rekan guru pada suatu forum tertentu. Mengapa guru lain dapat berpikir atau dapat menghasilkan suatu karya yang tidak terpikir oleh kita? atau mengapa guru lain mampu menyelesaikan persoalan dengan lebih cepat dengan cara yang unik dan mencapai hasil yang baik? Hal itu dapat terjadi karena guru tersebut memiliki keterampilan berpikir memecahkan masalah secara kreatif.
Apakah setiap guru dapat belajar mengembangkan keterampilan berpikir memecahkan masalah? Ya, Setiap guru dapat belajar untuk mengembangkan berpikir kreatif dan mengintegrasikan kemampuan tersebut dengan keterampilan-keterampilan  berpikir tingkat tinggi lain, sehingga mampu menyelesaikan berbagai permasalahan. Belajar mengeksplorasi mimpi dan berbagai kemungkinan dengan mengembangkan kepekaan terhadap petualangan, kejutan, kenyamanan dan kesenangan, sehingga memfasilitasi ide-ide baru dan pemecahan masalah secara inovatif sesuai kebutuhan. Ide-ide tersebut berbeda dan menunjukkan kualitas yang tinggi.
Saat ini perubahan kehidupan berlangsung sangat cepat dan kompleks dengan berbagai tantangan dan permasalahan. Setiap guru dituntut untuk fleksibel, kritis, dan terampil berpikir kreatif, sehingga mampu menangani permasalahan dan menemukan solusi yang melibatkan lingkungan sosial maupun fisik.
Jadi apa itu kreativitas? Bagaimana mengembangkan keterampilan berpikir kreatif? Bagaimana memecahkan masalah secara kreatif dan bagaimana kita mampu memfasilitasi orang lain untuk berpikir kreatif dan bertindak kreatif ?
Menurut Lumsdaine (1995), kreativitas adalah mempergunakan imajinasi dan berbagai kemungkinan yang diperoleh dari interaksi dengan ide atau gagasan, orang lain dan lingkungan untuk membuat koneksi dan hasil yang baru serta bermakna. Artinya mengembangkan pemikiran alternatif atau kemungkinan dengan berbagai cara sehingga mampu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang dalam interaksi individu dengan lingkungan  sehingga diperoleh cara-cara baru untuk mencapai tujuan yang lebih bermakna.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan guru untuk mempergunakan imajinasi dan berbagai kemungkinan yang diperoleh dari interaksi dengan ide atau gagasan, orang lain dan lingkungan untuk membuat koneksi dan hasil yang baru serta bermakna.
Pernahkah kita merasa pemikiran kosong atau merasa tidak berdaya karena tidak dapat berbuat apa-apa? Kreativitas merupakan aktivitas dinamis  dalam diri kita yang melibatkan proses mental pada alam sadar maupun di bawah sadar. Pada saat kita mengatakan dalam alam bawah sadar tidak mampu melakukan maka secara sadar kita menjadi tidak mampu melakukan. Sebaliknya pada saat kita menunjukkan kemampuan kita melakukan sesuatu secar sadar maka akan tumbuh keberhargaan diri pada alam bawah sadar dan tertampilkan kembali dalam sikap percaya diri. 
Kreativitas melibatkan keseluruhan otak. Seorang guru akan bertindak kreatif manakala mempergunakan potensi otak dengan optimal. Mempergunakan kedua belahan otak, otak kiri dan otak kanan.  Otak kiri yang mengatur kemampuan logika dan otak kanan yang mengatur humanistis. Implikasinya setiap persoalan yang datang dilihat tidak hanya dari kacamata logika tetapi berbagai dimensi yang menyertainya. Contoh sederhana, jika seorang siswa bertanya kepada Guru apa guna pensil? Jawaban secara logika adalah alat untuk menulis atau menggambar sesuai dengan fungsi utama. Mari kita menggunakan otak kanan, dengan bentuk dan kondisinya pensil dapat dipergunakan untuk mengganjal jendela, konde rambut ataupun pembatas halaman buku, dsb.
Kreativitas mengekspresikan  kualitas solusi penyelesaian masalah. Kunci kreativitas adalah kemampuan menilai permasalahan dari berbagai sudut pandang sehingga menjadi solusi yang lebih baik. Sudut pandang yang berbeda akan menstimulasi beragam ide dan mengembangkan struktur kognitif baru. Contoh seorang anak mungkin dipandang bodoh oleh manakala memperoleh nilai 2 pada saat ulangan Bahasa Indonesia. Pertanyaannya mengapa? akan merujuk pada berbagai kemungkinan kondisi anak. Apakah anak tidak mengalami gangguan fisik yang menghambat penerimaan materi belajar? Apakah anak tidak memiliki alat penunjang belajar? Ada berapa anak yang memperoleh nilai 2? Pada pelajaran lain berapa nilai yang dapat diperoleh? Itu beberapa pertanyaan yang dapat kita ajukan sebagai seorang guru jika kita melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Jawaban berbeda dari beragam pertanyaan akan memberikan gambaran masalah utama yang dihadapi anak, sehingga memfasilitasi kita untuk menetapkan solusi bantuan yang paling mungkin dilakukan secara tepat.
Menurut Mamat Supriatna (2006), kreativitas adalah kemampuan cipta, karsa dan karya seseorang untuk dapat menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru itu dapat ditemukan dengan menghubungkan atau menggabungkan sesuatu yang sudah ada. Kreativitas adalah bakat yang dimiliki oleh setiap orang yang dapat dikembangkan dengan pelatihan dan aplikasi yang tepat. Banyak studi telah dilakukan tentang perilaku kreatif dari para musisi, ilmuwan besar, arsitek, pujangga, dan pelukis. Hasilnya adalah bahwa proses kreativitasnya sama, baik kreativitas itu terpusat pada pemecahan masalah sehari‑hari, atau penemuan ilmiah tingkat tinggi.
Lakukan berbagai cara yang beragam untuk melakukan suatu aktivitas, refleksi apakah memberi cara yang lebih efektif, efisien, dan produktif? Perhatikan reaksi atau komentar orang lain terhadap penampilan/kinerja/unjuk kerja kita apakah menunjukkkan apresiasi yang positif dan kepuasan? Hal tersebut merupakan indikator sederhana apakah kita kreatif atau tidak.  Jika kita dan orang lain berusaha kreatif maka kita akan lebih kreatif. Mengembangkan perilaku kreatif dimulai dengan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif.
 
B. Mengapa Guru Perlu Mengembangkan Kreativitas
Guru diberi kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan tantangan perkembangan pendidikan. Perubahan dan perkembangan dalam dunia pendidikan berimplikasi kepada guru untuk dapat beradaptasi dengan cepat dan tepat. Seringkali tingkat keragaman dan kedalaman permasalahan dalam pendidikan, terutama menyangkut pembelajaran di sekolah sangat tinggi dan kompleks. Hal itu dikarenakan tantangan dan permasalahan pembelajaran dapat berasal dari faktor ekstern guru seperti siswa yang tidak semangat belajar, media pembelajaran yang kurang memadai, dsb. maupun intern guru seperti kurang menguasai teknologi informasi, dsb. Guru seyogianya dapat memikirkan dan bertindak dengan cara yang tepat untuk dapat menguraikan kompleksitas tantangan dan memikirkan berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menjawab berbagai masalah tersebut. Untuk itulah guru membutuhkan kretaivitas.
Kemampuan beradaptasi guru dipengaruhi oleh bagaimana guru memandang suatu permasalahan. Apakah permasalahan dianggap sesuatu yang menyulitkan, merugikan, dan mengancam diri atau permasalahan dipandang sebagai tantangan yang membuat diri menjadi lebih tahu, terampil, atau mampu bertindak lebih baik. Orientasi memandang suatu persoalan merupakan kunci awal seorang guru memiliki kreativitas. Pandangan positif memfasilitasi berkembangnya imajinasi tentang kondisi yang harus dihadapi sehingga persoalan dapat dilihat secara komprehensif. Imajinasi berbagai pengalaman sendiri dan atau orang lain yang dimaknai sebagai  proses belajar memberi peluang pada diri guru untuk melihat berbagai kemungkinan  atau alternatif tindakan yang dapat dilakukan.
Di sekolah seorang guru dapat menerapkan pola pembelajaran yang  memiliki semangat untuk meningkatkan kreativitas. Dalam konteks pembelajaran siswa, guru dapat tetap tegas bertindak atas dasar aturan-aturan baku namun tetap memberikan kesempatan dan memfasilitasi peningkatan kreativitas positif siswa. Berbagai alasan dari mulai tabu, pamali, kata orang tua, tidak menjadikan seorang guru membatasi kreativitas siswa, tetapi menjadikan kreativitas guru dan siswa selaras sesuai norma dan nilai yang baik.
Bersikap kreatif membawa dampak positif pada diri guru dan siswa. Pada diri guru mendorong aktulisasi potensi yang dimiliki. Bagi siswa memberikan kepuasaan karena tindakan yang dilakukan dalam waktu yang lebih cepat, memberi hasil yang lebih tepat, hasil yang lebih banyak, dan merupakan hasil karya yang orisinal dan unik.
 
C.      Proses Kreatif
Proses kreatif dapat digambarkan dalam empat tingkatan, yaitu:
1.      Tingkat persiapan, usaha dibuat oleh guru untuk memahami dan mengerti tentang kebutuhan personal. Guru memberikan perhatian secara mendetail terhadap objek sehingga dipahami secara utuh dalam berbagai dimensi sudut pandang. Sudut pandang paling tidak meliputi kondisi fisik objek, kegunaan atau manfaat, serta suasana atau situasi yang terbentuk karena keberadaan objek. Kebutuhan guru akan terkait dengan ketiga sudut pandang secara parsial, kombinasi maupun sebagai keutuhan. Contoh pada saat melihat kursi siswa, guru akan memberikan perhatian dari sisi fisik apakah bentuknya cukup mewakili sebuah kursi atau tempat untuk duduk dan apakah tidak ada bagian yang membahayakan. Dari sudut pandang kegunaan atau manfaat apakah kursi cukup kuat untuk diduduki atau menahan berat badan siswa. Dari sudut pandang suasana atau situasi yang tercipta apakah posisi kursi tidak menghalangi siswa atau guru berjalan, mendukung suanasana kelas yang menyamankan dan apakah cukup pantas untuk menempati bagian dari ruangan.
2.      Tingkat inkubasi (pengeraman), yaitu upaya untuk mengembangkan ide dari perhatian yang diberikan untuk menjawab persoalan yang dihadapi guru. Contoh : pada saat sekolah memiliki ruangan  dengan ukuran tertentu yang harus menampung sejumlah siswa untuk duduk dan menulis, maka bentuk dan ukuran kursi seperti apa yang harus dibuat atau dibeli sehingga memenuhi tujuan yang diharapkan.
3.      Tingkat wawasan, yang membawa guru pada pengertian baru. Artinya terbuka kemungkinan terjadi perubahan bentuk, ukuran dan fungsi dari suatu objek untuk memenuhi beberapa tujuan yang diharapkan. Contoh: ruangan yang ada tidak memungkinkan diisi dengan meja dan kursi karena akan membuat siswa tidak leluasa bergerak. Hal yang dibutuhkan adalah kursi yang juga berfungsi sebagai meja dan tempat menyimpan barang/tas, cukup ringan untuk dipindahkan dan dirapikan dengan cara melipat kursi, mampu menahan beban sebarat 30 – 50 kg dan tinggi 120 – 160 cm, serta cukup memberi ruangan untuk bergerak keluar dan duduk.
4.      Tingkat pengesahan/penemuan, yang menyadarkan guru tentang ide kreatif pengesahan atau tingkat implementasi. Upaya mewujudkan ide dalam bentuk nyata. Contoh: untuk memperoleh kursi sesuai kebutuhan pada tingkat wawasan awalnya perlu dibuatkan gambar, mempertimbangkan bahan, mengerjakan, menata dalam ruangan dan memanfaatkan benda baru.
 
D.      Ciri-ciri Guru Kreatif
Guru yang kreatif memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Cenderung melihat suatu persoalan sebagai tantangan untuk menunjukkan kemampuan diri.
2.      Cenderung memikirkan alternatif solusi/tindakan yang tidak dilakukan oleh orang-orang pada umumnya atau bukan sesuatu yang sudah biasa dilakukan.
3.      Tidak takut untuk mencoba hal-hal baru asalkan positif.
4.      Mau belajar mempergunakan pendekatan, metode, teknik, strategi, media, alat peraga, dan peralatan inovatif dalam pembelajaran.
5.      Tidak takut dicemooh karena berbeda dari kebiasaan.
6.      Tidak malu bertanya berbagai informasi tentang sesuatu hal yang dianggap menarik.
7.      Tidak cepat puas terhadap hasil yang diperoleh.
8.      Toleran terhadap kegagalan dan frustasi.
9.      Memikirkan apa yang mungkin dapat dilakukan atau dikerjakan dari suatu kondisi, keadaan atau benda.
10.  Melakukan berbagai cara yang mungkin dilakukan dengan tetap berdasar pada integritas,  kejujuran, menjujung sistem nilai,  dan bertujuan positif.
11.  Tindakan yang dilakukan efektif, efisien, dan produktif.
 
 
Diadaptasikan dari:
Buku Kompetensi Kepribadian 01 – B3
Kreativitas”, Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal  Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenagakependidikan Departemen Pendidikan Nasional 2008

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...