Friday, 30 May 2014


Ilustrasi Guru Kreatif (Sebuah Refleksi Studi Kasus)

 

Kamis, 16 Februari 2012, jam terakhir Bahasa Indonesia. Pak Do masuk kelas, kelas VI yang sebentar lagi menempuh Ujian Nasional (UN).

 Setelah memberikan salam dan mengkondisikan siswa, Pak Do bermaksud memberikan apersepsi dan memaparkan tujuan pembelajaran.

 “Anak-anak hari ini kita akan melanjutkan latihan untuk persiapan Uji Coba UN Tingkat Kabupaten yang akan dilaksanakan empat hari lagi, melalui latihan soal-soal peribahasa diharapkan kalian bisa lebih memahami ilustrasi cerita dan menentukan peribahasa yang tepat dari ilustrasi cerita yang disajikan,” kata Pak Do bersemangat.

 “Yaaaaa, latihan soal lagi. Pak Do, capek nii!” (Di luar dugaan anak-anak menjawab tak bersemangat.)

 “Pak Do, drama saja, ya?” (Pinta anak-anak memelas.)

 Pak Do tersenyum dan secara bijak menyadari bahwa beliau harus berpikir cepat dan kreatif menghadapi situasi di luar skenario itu. Pak Do berpikir harus memilih strategi yang tepat agar pembelajaran materi peribahasa dapat berjalan lancar sesuai rencana, juga tidak memupuskan semangat dan minat siswa untuk belajar materi drama.
 
Akhirnya, Pak Do menemukan cara kreatif bagaimana beliau dapat tetap memberikan pendalaman materi peribahasa sesuai tujuan pembelajaran sekaligus juga mengapreasi semangat dan minat siswa untuk mendapat pelajaran tentang drama. Alih-alih Pak Do memaksakan pemahaman peribahasa melalui latihan soal, Pak Do malah memberikan pendalaman pelajaran peribahasa melalui pelajaran membuat skenario drama dan hasilnya luar biasa, siswa sangat bersemangat dan berterima kasih kepada Pak Do.
 
Baik, anak-anak mari kita belajar tentang peribahasa sekaligus mendalami materi drama. Baik, mari kita pahami petunjuk pembelajaran berikut ini!” lanjut Pak Do bersemangat.

 Pak Do kemudian memberikan 5 petunjuk pembelajaran yang harus dipahami oleh para siswanya. Petunjuk sederhana dengan hasil luar biasa bagi siswa.

Petunjuk:
1.      Buatlah kelompok (1 kelompok 3 anak)!
2.      Buatlah skenario drama (meliputi: judul, pengantar, diolog, dan penutup)!
3.      Tema : peribahasa
4.      Skenario yang ditulis harus mengandung ilustrasi cerita atau jalan cerita yang dihubungkan dengan peribahasa atau memuat materi peribahasa!
5.      Skenario ditulis dalam selembar kertas, satu kelompok membuat 1 tugas untuk dikumpulkan, dan 3 salinan untuk masing-masing anggota!

 KBM pun berjalan lancar, anak-anak bersemangat membuat skenario drama, menghubungkannya dengan peribahasa. Anak-anak aktif mencari sumber, membuka-buka buku peribahasa, membaca, memahami, dan membuat ilustrasi dalam drama. Selain itu siswa mendapatkan nilai tambah untuk lebih memahami penokohan, menentukan latar drama, tokoh protagonis, antagonis, prolog, epilog, dsb. Anak-anak aktif bertanya jika kesulitan, saling berdiskusi dengan teman untuk pemecahan masalah. Waktu pelajaran 2 x 35 menit tak terasa berlalu. Pekerjaan pun selesai. Anak-anak paham peribahasa juga puas dengan pelajaran tentang drama. Ibarat sambil menyelam minum air.

Dari pengalaman studi kasus di atas, kita menjadi tambah memahami bahwa pembelajaran lebih berhasil dalam situasi kratif, aktif, dan menyenangkan. Guru dapat menggunakan strategi pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal.

 Menurut Yatim Riyanto (2009), strategi pembelajaran adalah siasat guru dalam mengefektifkan, mengefisienkan, dan mengoptimalkan fungsi serta interaksi antara siswa dengan komponen pembelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pengajaran. Studi kasus di atas mungkin dapat menjadi salah satu inspirasi bagi teman-teman guru untuk bersama-sama selalu meningkatkan kreatifitas dalam menerapkan strategi pembelajaran sesuai paradigma baru pembelajaran. Hal itu agar  kita dapat melaksanakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, gembira, dan berbobot (PAIKEM GEMBROT). Mari kita berkreasi, dan berinovasi, semoga bermanfaat serta berhasil!

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...