Sunday, 13 November 2016

Fantasi dan Implementasi Dalam Dunia Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Psikologi pendidikan berkaitan erat dengan proses pembelajaran. Psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Psikologi pendidikan berpusat pada kegiatan belajar yang persoalannya melekat pada peserta didik. Maka pendidik dalam hal ini guru seyogianya menguasai bidang ilmu psikologi pendidikan. Hal itu penting agar guru dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan menciptakan situasi dan kondisi yang memiliki daya dukung dan daya dorong yang baik terhadap tindakan belajar peserta didik yang efektif. Banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi keberhasilan tindakan belajar, diantaranya adalah fantasi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut. 
1. Apa pengertian dan klasifikasi fantasi?  
2. Apa nilai guna dan kekurangan fantasi 
3. Apa implementasi fantasi dalam pendidikan?

BAB II
FANTASI DAN IMPLIKASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN
A. Fantasi
1. Definisi
Fantasi adalah daya untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan yang sudah ada, dan tanggapan baru tersebut tidak harus sesuai dengan benda-benda yang ada. Fantasi memungkinkan manusia untuk berorientasi dalam alam imajiner, melampaui dunia riil. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), fantsi memiliki pengertian sebagai berikut.
a. Gambar (bayangan) dalam angan-angan; khayalan
b. Daya untuk menciptakan sesuatu dalam angan-angan.
c. Hiasan tiruan

2. Klasifikasi
Fantasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.
a. Tak disadari
Fantasi yang terjadi dengan tak disengaja (melampaui dunia riil dengan tidak sengaja). Contoh: orang yang berkata tidak benar tetapi tidak bermaksud untuk berdusta. Biasanya terjadi pada usia anak-anak yang masih kental dengan dunia khayal.
b. Disadari
Fantasi yang terjadi disengaja dan diikuti dengan adanya usaha dari subjek untuk masuk ke dalam dunia imajiner.

1) Aktif
Fantasi aktif mempunyai pengertian sebagai fantasi yang dikendalikan oleh pikiran dan kemauan. Dapat dibedakan lagi sebagai berikut.
a) Mengabstrasikan
b) Mendeterminasikan
c) Mengombinasikan

Fantasi disadari (aktif) memiliki dua sifat. Pertama mencipta, yaitu fantasi yang mampu menciptakan atau mengadakan tanggapan-tanggapan yang benar-benar baru. Sebagai contoh adalah seseorang yang mengarang cerita, atau anak-anak menciptakan alat permainan. Pada masa anak-anak pra sekolah perkembangan kognitifnya ditandai dengan berfantasi. Pada masa ini perkembangannya pada periode preoperasional dapat juga dikatakan dengan semiotic function, yaitu kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol (bahasa, gambar, tanda, benda, dan peristiwa). Anak-anak dapat menggunakan kata-kata, peristiwa dan benda untuk melambangkan yang lainnya. Misalnya kata "kapal terbang" dapat menggunakan kursi sebagai kapal terbang. Kedua terpimpin, yaitu fantasi yang mengikuti gambaran angan-angan (buah fantasi) orang lain. Sebagai contoh adalah anak yang mendengarkan cerita atau tari kreasi baru.

2) Pasif
Fantasi pasif adalah fantasi yang tidak dikendalikan dan seolah-olah hanya sebagai wadah tempat bermainnya tanggapan-tanggapan.
a)  Mengabstrasikan
b) Mendeterminasikan
c) Mengombinasikan

Adapun arti dari ketiga sifat fantasi tersebut (baik aktif maupun pasif) adalah sebagai berikut.
a)  Mengabstrasikan
Dalam proses berfantasi ada bagian-bagian yang dihilangkan. Sebagai contoh tanggapan terhadap lapangan tanpa rumput dan tumbuhan lain maka akan tercipta angan-angan semisal : padang pasir.
b) Mendeterminasikan
Dalam berfantasi sudah ada skema tertentu, kemudian diisi dengan gambaran yang lain. Sebagai contoh adalah tanggapan telaga, tetapi dalam berfantasi diperbesar dan diperluas, maka dapat muncul angan-angan semisal: lautan
c) Mengombinasikan
Fantasi yang menggabungkan bagian dari tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lainnya. Contohnya adalah gambaran kepala harimau dikombinasikan dengan tubuh manusia, maka terciptalah angan-angan semisal dewa harimau.


3. Nilai Guna dan Kekurangan Fantasi
Ada beberapa manfaat fantasi dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai berikut.
a, Memungkinkan orang menempatkan diri dalam keprihatinan orang lain, sehingga dapat memahami sesama.
b. Memungkinkan orang untuk menyelami sifat-sifat kemanusiaan secara umum.
c. Memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari ruang dan waktu.
1) Memahami apa yang terjadi di temapt lain (belajar geografi)
2) Memahami apa yang terjadi untuk melepaskan di waktu yang lain (belajar sejarah)
d. Memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari kesukaran hidup.
e. Memungkinkan manusia untuk menciptakan sesuatu yang dikejar.
f. Memungkinkan orang untuk menyelesaikan konflik riil secara imajiner.
g. Seniman dapat menghasilkan ciptaan yang indah sehingga dapat dinikmati orang lain.
h. Melalui fantasi memungkinkan orang dapat menemukan pendapat-pendapat baru yang penting di dunia ini.
i. Melalui fantasi memungkinkan orang dapat menanggap sesuatu pada masa lampau.
j. Melalui fantasi memungkinkan orang dapat merencanakan hidup kita pada pada waktu yang akan datang

Selain memiliki nilai guna, fantasi juga memiliki keukrangan yang dapat juga membahayakan, antara lain:
a. Kalau sering dan berlebihan-lebihan berfantasi yang indah-indah, biasanya orang tidak tahan ketika mengalami kesulitan hidup, orang akan menjadi mudah putus ada ketika kembali pada dunia riil.
b. Melalui fantasi orang akan mudah berdusta, lebih pada anak-anak
c. Dalam merencanakan hidup orang mudah berfantasi, tetapi secara nyata tidak dapat terlaksana.
d. Fantasi yang tanpa pimpinan dan penjagaan akan mudah sekali menjadi fantasi yang jauh dan liar. Orang akan cenderung menjadi pelamun atau penghayal.

B. Implementasi Fantasi Dalam Dunia Pendidikan
Usia anak merupakan usia khayalan, sehingga berdasarkan telaah tentang fantasi di atas dapat di implementasikan dalam dunia pendidikan, di antaranya meliputi hal-hal berikut.
1. Daya berfantasi siswa sangat perlu dikembangkan secara terpimpin untuk kepentingan dan keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.
2.  Siswa perlu dilibatkan secara aktif dan bertanggung jawab dalam pembelajaran, sehingga terasah fantasinya dalam memahami materi pembelajaran tertentu, semisal sejarah, dongeng-dongeng, ilmu alam, dsb.
3. Memilih topik pembelajaran yang tepat supaya perkembangan fantasi anak terarah pada hal-hal positif dan bagus untuk kemajuan belajar.
4. Melalui fantasi, anak dapat diajarkan masalah-masalah yang tidak bisa diamati secara langsung (sejarah, dongeng-dongeng, ilmu alam, dsb.)
5. Melalui fantasi terpimpin guru dapat membentuk watak anak.
6. Melalui fantasi terpimpin guru dapat meningkatkan kreatifitas anak dan dapat mengujinya melalui tes kreatifitas.
7. Diperlukan suatu setting pembelajaran yang dapat menjaga anak-anak  dari fantasi yang berlebihan-lebihan, liar, dan menimbulkan dusta.

BAB III
PENUTUP

Melalui telaah faktor psikologis siswa, guru dapat lebih memahami arti penting psikologi pendidikan untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Telaah tentang definisi fantasi, nilai guna, dan kekurangan fantasi, guru diharapkan dapat mengimplementasikannya dengan tepat untuk kemajuan dan keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.


Sumber:
Vita Andriana, dkk. 2009. Makalah S1 PGSD UNY: Fantasi, Ingatan, dan Berpikir. 
http://kbbi.web.id/fantasi

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...