Wednesday, 16 November 2016

Pendidikan yang Mengentaskan (Newer Hope)

Beberapa hari yang lalu penulis sempat berbincang-bincang dengan salah satu tokoh pendidik. Beliau bercerita tentang kisah seorang bapak yang dilihat secara ekonomi tergolong menengah ke bawah. Latar belakang pendidikannya pun tidak tinggi. Bapak itu adalah orang yang sangat sederhana, mau bekerja serabutan asalkan halal. Biasanya bertani, menjadi tukang batu, tak jarang tukang kayu undangan dari masyarakat sekitarpun ia jalani dengan lapang hati. Untuk bayaran, bapak itu bisaya tidak ngarani. Meski dengan penghasilan pas-pasan tapi beliau tetap berusaha menyekolahkan putra-putrannya. Ada yang masih di sekolah dasar, ada pula yang di sekolah menengah. Tak ayal untuk kecukupan biaya pendidikan putra-putranya, bapak itu harus memutar otak. Terpikirlah memperbaiki nasib, menambah penghasilan. Beliau merantau ke kota meninggalkan desanya dan sawah yang selama ini beliau garap. Beliau memutuskan untuk menjadi penjual bubur di kota. Untuk memperlancar usahanya beliau menyewa sebuah rumah kecil seharga Rp 500.000 per bulan. Rumah itu berfungsi untuk berjualan, rumah tinggal, sekaligus dapur masak. Akan tetapi sudah empat bulan berusaha alih karya untuk merubah nasib, nampaknya beliau belum berhasil.  Empat bulan berlalu namun uang sewa rumah pun belum dapat terbayar.

Seusai bercerita tokoh pendidik itu mencoba memberikan analisisnya tentang cerita yang baru saja beliau utarakan. Menurut beliau selain dengan kunci berdoa, asalkan halal mungkin banyak cara yang dapat diusahakan untuk memperbaiki nasib seseorang. Banyak jalan yang dapat ditempuh untuk sebuah ikhtiar seorang meningkatkan ekonomi. Ada orang-orang yang memang sukses dari awal dengan cara bertani, berdagang, menjadi pegawai, dsb. Meski begitu tidak sedikit orang yang belum berhasil meningkatkan ekonomi. Akan tetapi banyak pula orang yang meningkat ekonominya setelah mantap banting stir dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya. Seperti seorang karyawan roti senior dengan gaji bagus rela keluar untuk merintis usaha dan sukses. Ada yang dulunya seorang karyawan pabrik jamur dan sudah hampir pensiun kemudian merintis restoran jamur dan atas izin Allah menjadi sangat sukses, dengan ratusan karyawan. Masih banyak pula contoh-contoh lain yang dapat diamati di lingkungan sekitar masing-masing. Akan tetapi ada satu cara dari sekian cara yang lebih secara masif diharapkan dapat memajukan seseorang, menjadi harapan perbaikan nasib, dari segi sosial dan ekonomi bahkan emosional serta sepiritual, yaitu melalui pendidikan. Tentunya pendidikan yang mengentaskan. Oleh karena itu pendidikan lah yang harus kita perhatikan bersama, kita tumbuh kembangkan bersama, kita perbaiki, kita majukan seiring tantangan era globalisasi dengan harapan yang lebih baru (newer hope).

Sumber:
http://www.wordwebonline.com/en/NEW
https://books.google.co.id/books

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...