Sunday, 4 December 2016

Membiasakan (Tidak) Mencontek

Mencontek adalah perbuatan negatif yang dilakukan oleh siswa saat menjadi peserta tes atau ujian dengan cara meniru pekerjaan, membuka buku, membuka catatan, dan bekerjasama dengan peserta lain. 

Mencontek merupakan sebuah perbuatan yang pada awalnya dimulai dengan rasa was-was, berdebar-debar karena takut ketahuan, lambat laun bisa menjadi kebiasaan. Kebiasaan mencontek sudah jamak dibahas oleh para ahli pendidikan maupun psikologi. Akan tetapi nampaknya memang merupakan hal yang sejak dulu hingga sekarang belum teratasi. Malah dapat dikatakan semacam kebiasaan kronis yang menerpa peserta didik. 

Untuk memahami kebiasaan mencontek dapat dimulai  dari alasan-alasan peserta didik mencontek. Berdasarkan pengamatan dan wawancara sederhana dengan beberapa peserta didik secara umum diperoleh informasi penyebab mencontek sebagai berikut.
1. Perasaan belum siap mengikuti ulangan, tes, atau ujian
2. Perasaan belum menguasai materi yang diujikan
3. Perasaan berlebihan untuk memperoleh nilai sempurna tanpa diimbangi kemampuan dan usaha yang memadai
5. Perasaan takut kalah bersaing
6. Perasaan takut dimarahi jika mendapat nilai jelek
7. Perasaan takut tidak naik atau lulus dalam ujian
8. Perasaan berlebihan ingin mendapatkan ranking teratas
9. Perasaan berlebihan untuk masuk sekolah favorit
10. Perasaan berlebihan untuk mendapatkan iming-iming hadiah jika mendapat nilai yang baik

Penyebab-penyebab mencontek di atas kiranya perlu disikapi oleh berbagai pihak dalam rangka mendidik dan memperbaiki perilaku peserta didik agar tidak mencontek lagi.  Pihak-pihak yang dibutuhkan untuk menjalin kerjasama sesuai porsi dan tugas pokok dan fungsinya dalam proses perbaikan perilaku peserta didik adalah sebagai berikut.
1. Siswa
    - Belajar dengan sungguh-sunguh.
    - Menguasai materi yang diajarkan
    - Bertanya jika belum memahami
    - Mempersiapkan alat tulis sebelum mengikuti ujian
    - Datang lebih awal minimal 20 menit sebelum ujian
    - Menyesuaikan target nilai yang realistis dengan kemampuan yang dimiliki
    - Tidak berputus asa dalam belajar
    - Memperhatikan jika dijelaskan
    - Jangan meremehkan materi pelajaran yang diberikan
    - Selalu hormat terhadap guru
    - Mengikuti tata tertib ujian atau ulangan dengan baik

2. Guru
   - Menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan daya dukung, kompleksitas, dan intake
   - Menggunakan metode pembelajaran yang variatif sesuai materi dan karakteristik siswa
   - Membiasakan literasi dan latihan soal secara sistematis dan berkelanjutan
   - Memberi motivasi kepada anak untuk selalu giat belajar
   - Menghargai usaha anak
   - Memberikan umpan balik terhadap belajar anak
   - Memberikan kesempatan remidial dan pengayaan secara terprogram
   - Memberikan kesempatan siswa bertanya jika belum memahami materi
   - Menjelaskan tata tertib ulangan dan ujian

3. Sekolah
   - Memmberikan fasilitas sarana yang memadai untuk tempat ulangan atau ujian
   - Membuat tata tertib ulangan atau ujian
   - Mensosialisasikan tata tertib ulangan atau kepada guru dan siswa serta pihak terkait
   - Memberikan reward dan punishment yang mendidik bagi siswa.

Itulah bebrapa cara yang kiranya dapat diterapkan untuk membiasakan siswa agar tidak mencontek. Mungkin masih banyak cara lain yang dapat dilakukan untuk membiasakan siswa tidak mencontek selain cara di atas, akan tetapi semua cara itu akan jalan ditempat jika tidak ada pemahaman bersama terhadap pentingnya kebiasaan tidak mencontek dan komitmen bersama untuk membiasakan siswa tidak mencontek. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik dan komitmen bersama agar proses pembiasaan siswa agat tidak mencontek dapat berjalan sesuai apa yang diharapkan. 




Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...