Friday, 18 August 2017

Oyek dari Dusun Blancir

      Pukul tiga dini hari ketika matahari belum memunculkan sinarnya, azan subuh pun belumlah berkumandang. Oyek sudah mulai aktivitasnya, paling awal adalah berangkat ke pasar untuk kulakan. Ya, oyek. Oyek adalah sebutan bagi penjaja sayur di Dusun Blancir. Oyek menjajakan sayur mayur, bumbu dapur, dan jajan pasa keliling dusun-dusun, desa-desa, atau perumahan-perumahan dengan menggunakan sepeda motor. Mereka berangkat aktivitas ke-oyek-kannya pada pukul tiga pagi. Biasanya mereka ke pasar Grabag atau Tegalrejo, Magelang untuk kulakan. Azan subuh biasanya mereka selesai kulakan. Seusai kulakan para oyek kemudian sholat subuh di masjid atau mushola yang mereka jumpai.
      Seusai sholat shubuh mereka bergegas keliling untuk menjual sayur mayur. Daerah yang sering dijadikan pasaran mereka adalah Yogyakarta. Para oyek biasanya ke dusun-dusun atau desa-desa di wilayah Sleman. Selain itu tak jarang mereka keliling perumahan-perumahan setelah terlebih dahulu meminta izin pos keamanan. Para oyek sudah memiliki langganan tersendiri dan wilayah tersendiri, jadi meskipun para oyek jumlahnya terbilang banyak, tetapi tidak sampai menimbulkan persaingan yang tidak sehat.
      Sekitar pukul 11.00 WIB para oyek biasanya sudah pulang. Dagangannya sudah habis. Penghasilan bersih para oyek berkisar Rp 50.000-Rp 150.000/hari. Kehidupan ekonomi para oyek pun dapat dikatakan stabil. Mereka dapat berdagang Senin-Minggu, sedangkan Jumat untuk libur. Para oyek dapat menabung untuk membeli kendaraan bermotor juga membangun rumah permanen dari hasil berjualan sayur.

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...