Sunday, 6 August 2017

Pengertian Tema Cerita

   Tema adalah pokok pikiran atau dasar sebuah cerita. Dalam sebuah cerita, penulis biasanya menampilkan permasalahan yang ia atau orang lain rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan tersebut dijadikan sebagai ide dasar dalam menuliskan cerita. Dalam materi pembelajaran tema di sekolah dasar, pada umumnya tema cerita yang diangkat adalah tentang budi pekerti. Pun dalam soal-soal ujian SD/MI tema budi pekerti sering dimunculkan sebagai salah satu pilihan jawaban yang benar.    
      Tema budi pekerti dapat kita temukan dalam berbagai macam cerita yang disajikan untuk siswa sekolah dasar. Berikut ini adalah salah satu contoh cerita anak yang bertemakan "Budi Pekerti". 

Prasangka

    Siang itu matahari bersinar terik. Anto menunggu angkutan kota di terminal. Anto tampak kepanasan. Ia menggunakan bukunya untuk menutupi kepalanya.
Ia menunggu cukup lama. Bahkan, ia sudah merasa bosan menyetop angkutan kota. Akan tetapi, tidak satu pun angkutan kota yang berhenti.
     Anto kembali melambaikan tangannya. Kali ini usahanya tidak sia-sia. Secepat kilat ia berlari menghampiri angkutan kota itu. Ia duduk di kursi yang masih tersisa. Ternyata hanya satu tempat duduk yang tersisa.
       Angkutan kota pun melaju. Perasaan kesal Anto mulai berkurang. Ia menarik napas panjang, lalu memperhatikan semua penumpang angkutan kota. Di sebelahnya, pria berkacamata hitam dan membawa tas berukuran besar.
      Pria berkacama hitam itu tidak mau diam. Sebentar-sebentar pria itu menggerak-gerakkan kaki dan tangannya ke arah Anto.
       Anto menyeka keringat, lau memperhatikan pria itu. Dug ...! Jantungnya berdetak kencang. Anto merasa takut. Ia teringat pesan ibu dan tante Yanti agar berhati-hati. Sering terjadi pemerasan dan pencopetan di angkutan kota. Ibu dan Tante Yati pernah mengalaminya.
     Ciri-ciri pencopetnya sama seperti yang diungkapkan oleh ibu dan Tante Yanti. Orang itu tidak mau diam. Ia memakai jaket, berkacamata hitam, dan membawa tas besar.
    Tiba-tiba Anto teringat uang tabungan di dalam tasnya. Ada pula uang seragam yang belum dibayarkan. Ia ingin pindah ke tempat duduk yang lain. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Angkutan kota itu sudah penuh para penumpang. Ia ingin berteriak bahwa penumpang di sampingnya itu sorang pencopet.
    Tiba-tiba pria berkacamata hitam itu menghentikan angkutan kota. Pak sopir pun menepikan mobilnya. Anto merasa lega. Kekhawatiran Anto sama sekali tidak terbukti. Pria berkacamata itu tampak berjalan tertatih-tatih. Tanngannya seperti meraba sesuatu. "Hati-hati, Pak! Awas terbentur!" Kata sopir.
      Penumpang yang duduk dekat pintu pun turun. Penumpang itu menuntun pria berkacamata hitam. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas besarnya. Sebuah tongkat besi lipat berwarna perak. Anto terdiam keheranan. Pria berkacamata hitam itu ternyata seorang tunanetra. Untunglah, ia belum meneriaki pria itu sebagai pencopet. Anto malu karena telah berprasangka buruk kepadanya.

Dida Yogantara
Sumber: Kumpulan cerita anak dengan pengubahan dalam Imam Taufik, dkk. (2007)

      Jika kita cermati cerita tersebut tidak ada yang secara tersurat membahas tentang budi pekerti. Memang tema tidaklah dituliskan secara tersurat dalam sebuah cerita. Tema dapat kita ketahui dengan memahami isi cerita. Dari pemahaman isi cerita tersebut kita dapat menyimpulkan tema cerita. 
        Dari cerita berjudul "Prasangka", dapat dipetik suatu pembelajaran untuk anak, bahwa waspada itu baik tetapi sebaiknya jangan berprasangka buruk pada orang lain, meskipun orang tersebut belum kita kenal. Budi pekerti yang baik untuk anak pada saat bertemu orang lain misal di angkutan kota adalah waspada. Jika ada rasa was-was atau curiga dalam hati, sebaiknya anak punya keberanian untuk sekadar bertanya jawab atau mengobrol sederhana agar mengetahui serba sedikit tentang orang tersebut. Jika kita mengetahui atau mengenal sedikit, tentulah tidak timbul prasangka. 
    Beberapa contoh obrolan yang dapat kita gunakan untuk sekadar mengenal orang lain yang ada di samping kita ketika berada di angkutan umum dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
       "Bapak/ibu bade tindak pundi?" (Bapak/Ibu akan kemana?)
       "Bapak/ibu nembe saking tindak pundi? (Bapak/Ibu dari mana? ... dsb. 
       Pertanyaan atau obrolan sebaiknya sewajarnya dan secukupnya saja tidak berlebihan serta dengan bahasa yang santun. 

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...